Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran.

Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan.

Jam di dinding terus bergerak, dan setiap menit terasa lebih panjang dari biasanya. Namun di balik rasa bosan menunggu, ada keyakinan kecil bahwa sebentar lagi ruangan ini akan dipenuhi bunyi ketikan cepat, wajah-wajah serius, dan cerita-cerita yang lahir dari imajinasi masing-masing peserta.

sebagai juri

Sebagai juri lomba menulis cerita, satu jam sebelum acara dimulai terasa cukup panjang namun penuh pengamatan. Ruangan perlahan dipenuhi peserta dengan berbagai ekspresi—ada yang terlihat santai sambil bercanda, ada pula yang sibuk menatap layar laptop dan membuka catatan kecil mereka. Dari tempat dudukku di meja juri, aku memperhatikan bagaimana suasana dipenuhi campuran rasa gugup dan antusias.

Panitia mondar-mandir memastikan semua perlengkapan siap, sementara suara mikrofon yang diuji beberapa kali memecah keheningan ruangan. Di atas meja, lembar penilaian sudah tersusun rapi, lengkap dengan pena dan daftar nama peserta. Aku sesekali membaca kembali kriteria penilaian, membayangkan seperti apa cerita-cerita yang akan lahir hari itu—apakah akan ada tulisan yang mampu membuat ruangan terasa sunyi karena semua tenggelam dalam maknanya.

Menunggu selama satu jam itu membuatku sadar bahwa lomba bukan hanya soal menang atau kalah. Di balik wajah-wajah tegang para peserta, ada keberanian untuk menuangkan ide dan perasaan menjadi sebuah cerita. Sebagai juri, aku merasa bukan hanya akan menilai tulisan mereka, tetapi juga menyaksikan bagaimana kreativitas dan imajinasi setiap orang berbicara lewat kata-kata.