Senja Menggamit


Senja di tapal batas ranum memukau
Yang tiada letih menanti hadirnya lembayung
Walau tak lama
Namun mampu menghapus kerinduan

Senja tiada henti menanti
Hadirnya malam hingga fajar menyingsing

Di pelupuk bumi
Menatap hingga di ujung waktu
Mencecah senja yang bersorak

Senyum rentang cakrawala
Untuk menyambut sang jingga.
Yang meliuk mencecah kaki cakrawala.
Senja terpaku sejenak lalu getar berbisik
Meliuk erotis meski dalam sepi
Entah apa mengecup
memberi warna

Dengan seizin senja
Mengamit helaiku diantara luas cakrawala

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...