Wisata Religius


Sabtu 3 Agustus cek out dari Fave Hotel Jakarta menuju bandara Surabaya dengan arah siar Kemitraan ke Gresik Jawa Timur. Selamat datang Kota Gresik coretan awal di gapura kota industri, yang juga memiliki julukan sebagai kota Santri. Daerah ini terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa melalui Wali Songo. Destinasi wisata religi salah satu anggota Wali Songo yaitu makam Maulana Malik Ibrahim atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gresik. Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim, letaknya tak jauh dari SMA Negeri 1 Gresik. Alun-alun Gresik, dan sekitaran konpleks perkampungan Arab. Bangunannya kondisi yang sangat terawat, terletak di desa Gapurosukolilo. Selain Sunan Maulana Malik Ibrahim, di kawasan ini juga ada empat makam lain. Yaitu, istri Malik Ibrahim Sayida Siti Fatimah, anak Malik Ibrahim Syekh Maulana Maghfur, ayah Sunan Giri Syekh Ishak dan Wali asal Maroko Maghrobi. Tak hanya itu, juga ada Makam Bupati Gresik pertama, Kiai Toemenggoeng Poespanegoro I. Menurut abdi dalem pengunjung biasa sekitar ribuan/tahun peziarah. Makam ini dihiasi dengan relief ayat-ayat Al-qur’an dan awalnya makam ini dilindungi dengan pagar kayu sampai dengan tahun 2014, pagar makam tersebut sudah diganti dengan pagar jeruji besi tahun 2015. Sunan ini berdakwah agama islam melalui pendekatan sosial budaya, sebagai tabib, guru para pangeran dan sebagai tongkat sekalian para sultan, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Ia wafat pada Senin 12 Rabi’ul Awwal 822 Hijriah. Selanjutnya ziarah di makam Sunan Giri.





1 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...