Sumur Harapan sebagai Inspirasi Menulis

 

Dunia pendidikan saat ini semakin berkembang, berbagai macam pembaharuan dilakukan agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan diperlukan berbagai terobosan, baik dalam pengembangan kurikulum, terutama inovasi pembelajaran agar peserta didik aktif.

Pembelajaran hendaknya menghasilkan individu yang mampu menghadapi tantangan abad ke 21. Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 ditegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kualitas sumber daya manusia Indonesia saat ini masih rendah. Berdasarkan hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2013 dari 65 negara yang diteliti Indonesia berada di posisi kedua dari bawah. Rendahnya peringkat Indonesia berdasarkan PISA di atas menunjukkan masih adanya permasalahan pada pendidikan Indonesia. Salah satu permasalahan dalam pendidikan adalah proses pembelajaran yang masih lemah (Direktorat Pembinaan SMA, 2017:1). Tidak semua guru memahami bahwa tujuan utama pembelajaran adalah untuk mengaktifkan potensi peserta didik sehingga peserta didik mampu mencari tahu dan menerapkan pengetahuannya pada sebuah keterampilan untuk membangun sikap mereka. Kenyataan menunjukkan masih banyak guru yang belum sepenuhnya memahami dan mengimplementasikan pembelajaran yang mampu mengembangkan potensi dan kemampuan peserta didik secara maksimal.

Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah juga dianggap masih memiliki kelemahan. Pembelajaran bahasa Indonesia masih bersifat teoretif dan kurang aplikatif. Kenyataan ini terjadi pada peserta didik SMA Negeri 1 Majene. Beberapa peserta didik mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia setengah hati dan hanya sebagai syarat formal kelulusan sehingga berakibat gagalnya peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya. Kegagalan peserta didik tersebut ditandai antara lain minimnya prestasi peserta didik dan kurangnya produk atau hasil karya peserta didik dari proses pembelajaran bahasa Indonesia.

Kurang berhasilnya pembelajaran disebabkan juga desain pembelajaran yang dirancang oleh guru yang kurang mengoptimalkan pengembangan kemampuan peserta didik. Selain itu, sarana pendukung berupa buku-buku sumber yang terbatas dan media yang mendukung pembelajaran bahasa Indonesia masih kurang menyebabkan sulitnya menghasilkan produk-produk pembelajaran.

Berbagai program telah dilakukan untuk mengembangkan potensi peserta didik antara lain penyediaan papan majalah dinding, penambahan buku-buku di perpustakaan,kegiatan pennelitian di ekstrakurikuler, lomba pidato pada saat class meeting, pelatihan guru dalam workshop dan diklat pembelajaran. Namun upaya tersebut belum berhasil secara maksimal untuk mengembangkan potensi dan keterampilan peserta didik.

Salah satu perbaikan pembelajaran adalah hendaknya guru menerapkan pembelajaran aktif. Menurut Bonwell (dalam Direktorat Pembinaan SMA, 2017:3) pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang menjadikan peserta didik berpartisipasi dalam proses pembelajaran, tidak hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru tetapi melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan pembelajaran. Joyce (1994) menyatakan bahwa guru hendaknya menjadi desainer yang mampu menguasai teori, mengajarkan, dan menerapkan teori pada proses pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran.

Meningkatkan prestasi belajar diperlukan pembelajaran yang lebih inovatif dapat mendorong peserta didik belajar secara optimal baik di dalam belajar mandiri maupun pembelajaran di kelas. Proses belajar mengajar di sekolah haruslah dengan semaksimal mungkin agar tujuan pendidik mampu dicerna secara matang oleh peserta didik sekolah. Ini penting mengingat peran pendidikan bagi anak bangsa dan generasi penerus. Guru merupakan subjek utama yang berperan, karena guru adalah orang yang mengarahkan, membimbing peserta didik.

Setiap guru harus pandai-pandai dalam memilih metode dan media belajar sesuai peserta didik. Media dan metode belajar yang sesuai akan mampu mempermudah peserta didik dalam merespon pengetahuan dari guru. Hendaknya, ketika proses belajar mengajar dilaksanakan, guru tidak hanya mengajarkan materi pelajaran saja, tetapi motivasi juga penting untuk menumbuhkan minat peserta didik dalam belajar. Dan tentu saja yang membutuhkan motivasi tidak hanya peserta didik, tetapi juga guru. Ini dilakukan akan semangat melaksanakan pembelajaran abad 21 dan menghadapi tantangan revolusi 4.0 tidak layu seiring berjalannya waktu. mengimbangi munculnya karakteristik peserta didik yang saat ini cenderung aktif dan kreatif.

 

Peserta didik diberi kesempatan dan dituntut untuk mampu mengembangkan kecakapannya dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Dengan demikian, peserta didik memiliki kemampuan dalam menggunakan teknologi pada proses pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai kecakapan berpikir dan belajar peserta didik.

Menuju sekolah unggul dan berprestasi, sebuah kalimat yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dicapai. SMA Negeri 1 Majene dari sisi prestasi dan citra sekolah masuk kategori bagus dari deretan sekolah negeri yang ada. Permasalahannya sekolah dihadapkan pada persoalan yang kompleks, terutama penyelenggaraan pembelajaran dan kurang minat belajar peserta didik utamanya membaca.

Fenomena  yang terjadi di SMA Negeri 1 Majene yang berkaitan dengan aktivitas guru dalam melaksanakan tugasnya adalah sebagai berikut: 1) sebagian besar guru masih menerapkan pembelajaran yang konvesional dengan metode ceramah, tanya jawab, pemberian tugas; 2) minat dan motivasi guru dalam inovasi yang masih rendah, hal ini ditunjukkan dengan adanya sikap guru yang cenderung apatis dengan adanya berbagai pembaharuan, dan merasa nyaman dengan kondisi rutinitas; 3) dalam melaksanakan pembelajaran guru kurang menggunakan media, sehingga pembelajaran kurang nyata/riil); 4) Kurangnya minat baca peserta didik sehingga dalam proses pembelajaran hanya sebagai pendengar dan penerima informasi. Peserta didik sepertinya kurang tersentuh untuk membaca literatur yang berkaitan dengan mata pelajarannya. Aktivitas membaca mengalami penurunan, padahal teknologi informasi yang sudah sangat maju. Berbagai macam hiburan yang tidak mengikutsertakan media buku, menjadi lebih menarik, karena membaca membutuhkan perhatian khusus yang tidak dapat diselingi dengan aktivitas lain.

Kurangnya minat membaca pada peserta didik dapat juga diketahui dari partisipasi  peserta didik di kelas saat mengikuti proses pembelajaran. Penulis banyak menemui, peserta didik yang sulit dan tidak mau untuk bertanya tentang materi yang diberikan. Peserta didik cenderung diam dan menerima semua informasi yang diberikan. Peserta didik sangat kurang memberikan kritik, pendapat ataupun idenya. Pada saat guru menanyakan alasan peserta didik tidak mau bertanya, kebanyakan peserta didik merasa bingung dan tidak mampu untuk bertanya (takut pertanyaan tidak bermutu). Di sisi lain, kualitas pertanyaan sebenarnya dapat ditelusuri dari hasil bacaan mereka.  Peserta didik yang tidak mampu bertanya ataupun memberikan pertanyaan tidak berkualitas, karena sebelumnya mereka tidak membaca tentang materi yang diberikan sebagai sumber ide dan pengembangan wawasan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia ini sangat terkait dengan minat membaca. Kebiasaan membaca tidak hanya berkaitan dengan proses belajar mengajar saja, tetapi juga dapat membentuk kepribadian individu dengan menghayati hasil bacaannya.


Guru memiliki peran yang strategis dalam bidang pendidikan, bila tidak memadai maka keberadaan guru dianggap tidak berkualitas. Kinerja dan kompetensi guru memikul tanggung jawab utama dalam transformasi orientasi peserta didik dari ketidaktahuan menjadi tahu, dari ketergantungan menjadi mandiri, dari tidak terampil menjadi terampil, dengan metode pembelajaran bukan lagi mempersiapkan peserta didik yang pasif. Melainkan peserta didik berpengetahuan yang senantiasa mampu menyerap dan menyesuaikan diri dengan informasi baru dengan berpikir, bertanya, menggali, mencipta dan mengembangkan cara-cara tertentu dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupannya. 

Guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan. Singkatnya, guru merupakan kunci utama dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Oleh karena itu sebagai kandidat profesional adalah guru yang memiliki keahlian, tanggung jawab, dan rasa kesejawatan yang didukung oleh etika profesi  yang kuat. Untuk itu guru harus telah memiliki kualifikasi kompetensi yang memadai: kompetensi intelektual, sosial, spiritual, pribadi dan moral (Mohamad Surya, 2003: 28). Peserta didik diharapkan sukses dalam pekerjaan dan kehidupan melalui penguasaan keterampilan berpikir kreatif, pemecahan masalah yang fleksibel, berkolaborasi dan berinovasi. penanam pengetahuan", menuju peran sebagai pembimbing, pengarah diskusi dan pengukur kemajuan belajar peserta didik.

Pembelajaran abad ke-21 adalah membangun kemampuan belajar individu dan mendukung perkembangan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat, aktif, mandiri. Sebagai pelatih pembelajaran, yang memberikan bimbingan untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan keterampilan dan menawarkan berbagai dukungan yang akan membantu peserta didik mencapai tujuan belajar mereka. Sebagai giuru berusaha mencari tahu bersama-sama dengan siswa mereka, tahu bagaimana melakukan sesuatu, tahu bagaimana cara untuk mengetahui sesuatu atau bagaimana menggunakan sesuatu untuk melakukan sesuatu yang baru. Perhatikan gambar berikut:

 

 

Gambar 3.1.1  Guru melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan referensi yang ada di Sudut Baca

Dalam melaksanakan proses pembelajaran, guru beserta anak didik berusaha bersama menemukan dan menyelesaikan sesuatu hal, bagaimana cara melakukan sesuatu. Guru berlaku sebagai role model untuk sebuah kepercayaan, ketekunan, keterbukaan, serta berkomitmen menghadapi tantangan abad 21. Pembelajaran yang  berpusat pada pendidik (teacher center learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peseta didik (student centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan masa depan, peserta didik harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar.

Gambar 3.1.2 Kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan PPK

Tindakan yang dilakukan dalam peningkatan kualitas dan penumbuhan minat baca adalah:

a.     Memanfaatkan sudut baca sebagai sarana sumur harapan

b.    Setiap peserta didik wajib membaca referensi yang ada di galeri sudut baca

c.     Mengisi buku kunjungan

d.    Peserta didik wajib menggali informasi dari sumur harapan dalam hal ini literatur yang ada di sudut baca

e.     Peserta didik wajib menyampaikan informasi dalam setiap proses pembelajaran.

Perhatikan gambar berikut:

 Gambar 3.1.3 Sudut Baca kelas Bahasa lengkap dengan buku literatur

Gambar 3.1.4 Sudut Baca kelas IPS lengkap dengan buku literatur

 

 

Gambar 3.1.5  Peserta Didik antusias memanfaatkan referensi yang ada di Sudut Baca

Gambar 3.1.6  Peserta Didik antusias memanfaatkan referensi yang ada di Sudut Baca

 

 

 

 

 

Gambar 3.1.7 Guru berdiskusi dengan salah satu Peserta Didik antusias memanfaatkan referensi yang ada di Sudut Baca

          Gambar yang tanpak di atas menjelaskan bahwa guru tidak sekedar menyeru tentang manfaat keberadaan sudut baca di kelas, tetapi guru harus menjadi pendorong semangat, pemberi contoh, dan membantu peserta dalam mengembangkan bakat dan kemampuan dalam diri peserta didik. Terlibatnya guru dalam mendekatkan peserta didik dengan lahan baca ternyata berdampak positif pada peningkatan minat. Kesempatan berdiskusi tentang apa yang telah dibaca membawa ruang komunikasi yang asyik dan menyenangkan.

Namun yang kita harapkan tidak semudah membalikkan tangan. Kendala terbesar di kalangan peserta didik adalah kurangnya minat untuk membaca dan menulis. Harapan dan keinginan dalam mencapai tujuan yakni melangkah ke perubahan peserta didik dapat menumbuhkan minat baca. Peserta didik dianjurkan membaca dan membaca buku di sudut baca.

Awalnya mereka hanya sekedar membuka buku, bahkan yang meluangkan waktunya untuk berkunjung di sudut bacanya masih terhitung jari. Kehidupan melek baca memang penuh perjuangan untuk mencapai sebuah tujuan dan harapan. Memerlukan ekstra untuk membawa pada pembiasaan membaca. Cara lain yang biasa dilakukan adalah guru sebagai role model agar nyata. Penulispun meluangkan waktu membaca buku literatur di sudut baca, sebagai pemicu kepada peserta didik. Biasanya dalam waktu beberapa detik, peserta didik mengikuti jejak yang dilakukan. Akhirnya dengan bekal ketekunan, komitmen, tumbuh pembiasaan, dan dalam proses pembelajaran peserta didik mulai aktif bertanya dan menjawab.

Gerakan pembiasaan yang dilakukan sebelum pembelajaran di mulai wajib memilih referensi untuk dibaca, telah mendukung perkembangan bahasa lisan dan diksi, serta mereka mulai terampil berbicara dan bahkan dalam menulis. Berbagai cara dilakukan sehingga peserta didik sudah banyak terlibat dan memanfaatkan sudut baca itu merupakan smur harapan bagi peserta didik. Semakin aktif memanfaatkan sumber informasi yang ada di sudut baca tersebut semakin lancar dan berkualitas keterampilan berbicara dan menulis. Semakin banyak menggali informasi dari literatur yang di sudut kelas semakin luas pemahaman dan wawasan mereka. 

   


0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...