Aku Juga Anak Negeri

 Aku juga anak negeri

yang kian hari kian menanti senyum

Aku juga butuh perlakuan yang 

Yang sedikit saja kurindukan, kasihmu


Aku juga ingin mendapatkan senyum 

Seperti yang diterima oleh mereka yang beruntung

yang bisa senyum tanpa paksaan

Yang tak punya luka mendalam


Di sekolah, aku anak negeri yang terasa asing

Pagiku hanya sapaan sinis

Padahal aku juga ingin mengenal kasih

Aku juga rindu cinta 


Di gerbang itu selalu aku berharap

Sebuah senyum manis yang menjadi semangat

Sebuah sapaan yang menggugah hati kelamku

Hingga aku bisa melepas dahagaku




0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...