KONTROVERSI KEHADIRAN MBG

 

Benarkah Menekan Angka Stunting melalui Program MBG di Sekolah

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah diyakini dapat menekan angka stunting dengan memastikan peserta didik memperoleh asupan gizi seimbang secara rutin. Pemenuhan kebutuhan gizi, terutama protein, vitamin, dan mineral, berperan penting dalam mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Bagi siswa dari keluarga kurang mampu, kehadiran MBG menjadi solusi nyata dalam mencegah kekurangan gizi kronis yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama stunting.

Selain itu, MBG juga berfungsi sebagai interversi gizi berkelanjutan, bukan bantuan sesaat. Dengan pola makan sehat yang terkontrol di lingkungan sekolah, risiko gizi buruk dapat ditekan sejak dini sehingga berdampak positif terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Program Makan Bergizi Gratis di sekolah dapat menekan angka stunting karena menjamin pemenuhan gizi seimbang bagi peserta didik secara rutin, terutama bagi anak dari keluarga kurang mampu.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah dapat meningkatkan konsentrsi belajar siswa karena asupan gizi yang cukup dan seimbang berpengaruh langsung terhadap fungsi otak. Nutrisi seperti protein, zat besi, dan vitamin membantu menjaga stamina serta daya fokus siswa selama mengikuti pembelajaran. Dengan kondisi fisik yang sehat dan tidak lapar, siswa lebih mampu menyimak pelajaran, berpikir kritis, dan berpartisipasi aktif di kelas.

Asupan gizi yang terpenuhi melalui program MBG membantu meningkatkan konsentrasi belajar siswa karena otak memperoleh energi yang cukup untuk bekerja secara optimal. 










0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...