Jurnal Refleksi Minggu ke 14
COACHING
Model 5: Connection, Challenge, Concept, Change (4c)
Model ini dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Ada
beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan dalam membuat refleksi model
ini, yaitu:
1) Connection: Apa keterkaitan materi yang didapat dengan
peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak?
2) Challenge: Adakah ide, materi atau pendapat dari
narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda jalankan selama ini?
3) Concept: Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari
dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak
atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?
4) Change: Apa perubahan dalam diri Anda yang ingin Anda
lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini?
Connection
Minggu ke-14, aktivitas yang dilakukan aksi nyata penerapan pembelajaran
sosial dan emosional. Kesadaran Sosial Emosional
dalam pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. Yakni eknik STOP. Aktivitas
pembelajaran adalah berdiskusi. Guru memberikan pemahaman kepada murid untuk
menanamkan rasa saling menghargai perbedaan pendapat dan berbagi pengetahuan
ketika berdiskusi. Proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik
sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan
arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’
melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar
dari dirinya.
Aktivitas selanjutnya adalah Mulai dari Diri dalam memahami Konsep Coaching di sekolah. Saya
mengidentifikasi pengetahuan dan pengalaman yang menggambarkan praktik coaching
di dunia pendidikan. Materi ini sangat relevan dengan peran saya sebagai guru
penggerak karena di aktivitas pembelajaran mulai dari diri saya belajar
mengeksplorasi diri dalam merespon secara cepat kasus-kasus yang mungkin
terjadi dalam keseharian saya sebagai pendidik yang menghambat terhadap tujuan
pembelajaran murid. Saya belajar untuk menanggapi beberapa kasus yang ada di
Learning management system (LMS). Selanjutnya Eksplorasi Konsep Modul Coaching.
Kegiatan Eksplorasi Konsep, saya melalui beberapa proses kegiatan mandiri
untuk mempelajari materi melalui kegiatan membaca dan menjawab pertanyaan, dan
diskusi asinkron untuk menguatkan pemahaman terkait materi yang dipelajari.
Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan, Komunikasi Yang Memberdayakan, TIRTA
Sebagai Model Coaching.
Pemahaman materi tersebut sangat dibutuhkan oleh seorang guru untuk melakukan pelayan prima kepada murid dan
untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi murid. Eksplorasi konsep sangat
bagus sebagai proses mendewasakan diri dalam menggali pengetahuan dan
pengalaman terkait coaching, Coaching dalam Konteks Sekolah, dan Perbedaan
antara Coaching, Konseling, dan Mentoring dalam Konteks Pendidikan. Komunikasi
asertif, tehnik Mendengarkan aktif, dan Bertanya efektif serta TIRTA sebagai
model coaching dari T adalah Tujuan, I adalah Identifikasi, R adalah
Rencana aksi, dan TA adalah Tanggung jawab.
Challenge
Di aktivitas pembelajaran ini calon guru penggerak diketuk hati untuk
melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid setiap akan melakukan pembelajaran
dan memperhatikan sosial emosional untuk mengembalikan focus sehingga
pembelajaran dilakukan dapat memaksimalkan karakteristik, potensi dan keunikan
murid, Selama ini pembelajaran atau praktik baik yang dilakukan baik dengan
cara berkomunikasi, bertanya dan proses pendampingan belum menyentuh secara
mendalam. Kebiasaan yang guru lakukan dalam menyelesaikan permasalahan yang
dihadapi murid selalu langsung memberi solusi dengan memberikan solusi dengan
pengalaman, tanpa menggali potensi atau kemampuan apa yang dimiliki murid dan
dapat dioptimalkan untuk menyelesaikan masalah yang hadapi murid oleh itu
sendiri, guru hanya menggali optimalisasi potensi murid.
Concept
Proses pembelajaran dilakukan guru masih mengandalkan pengalaman, namun
berusaha sharing tentang pembelajaran
yang didasarkan pada kebutuhan belajar murid baik dari minat belajar, kesiapan
belajar atau profil belajar murid. selain itu banyak pengetahuan baru dari
aktivitas belajar modul pembelajaran social emosional ketika kita menghadapi
bertumpuknya tanggung jawab yang menimbulkan stress dan emosi. Di aktivitas ini
diajarkan bagaimana mengenal, mengelola, mengendalikan emosi, menumbuhkan rasa
empati kepada siapapun khususnya murid, berdaya lenting dan menentukan
pilihan/keputusan yang bertanggung jawab.
Aktivitas di minggu ke 14 ini memberikan pemahaman kepada kita sebagai guru
sangat penting tentang komunikasi asertif, mengembalikan focus dan
menyelesaikan pekerjaan sesuai target yang diharapkan. Komunikasi yang berdasarkan
atas kemampuan individu untuk mendengarkan sudut pandang orang dan merespon
penuh kejujuran dan rasa hormat serta menghargai. Selain itu membelajarkan
kepada kita sebagai penanya efektif dan pendengar aktif yang dapat membantu
menciptakan proses coaching berjalan sesuai tujuan dan harapan. Coaching
sebagai dasar untuk menggali dan mendorong potensi yang dimiiki coachee untuk
menyelesaikan masalahnya sendiri.
Change
Perubahan yang dapat dilakukan mulai belajar untuk menyusun rencana
pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran sosial emosional dan
pembelajaran berdiferensiasi dan mengaplikasikannya di kelas. Dan juga,
menggerakkan rekan sejawat untuk mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi
serta kompetensi sosial emosional dalam praktik baik di kelas.
Pemahaman coaching dalam konteks pendidikan, pengenalan
kemampuan diri dalam menyelesaikan masalah, pengenalan
sistem coaching dalam konteks pendidikan. Komunikasi yang memberdayakan yang menjadi
pendengar aktif, bertanya reflektif dan memberikan umpan balik positif. Pengetahuan dan keterampilan model coaching. Ki
Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya
atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Oleh
karena itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan
kodrat atau potensi agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia
maupun anggota masyarakat.
0 Komentar