JURNAL REFLEKSI MINGGU Ke 15



JURNAL REFLEKSI KE 15

COACHING

Model Six Thinking Hats

Herlina, S.Pd., M.Pd.

CGP Kab Majene

Angkatan 3

 

Kegiatan minggu ke 15 ini diawali kegiatan diskusi di Ruang Kolaborasi dan praktik coaching dengan sesama CGP, Refleksi terbimbing, Demonstrasi Kontekstual, dan lokakarya 4 pembelajaran berdiferensiasi.

 

Saya merasa sangat senang dan termotivasi mempelajari modul Coaching sebagai media komunikasi untuk menggali potensi dalam menyelesaikan masalah

 

Saya dapat memahami lebih memahami materi coaching melalui praktik. Coaching merupakan sebuah proses komunikasi untuk menggali potensi dan kekuatan coache untuk menyelesaikan masalahnya sendiri

 

Setelah mempelajari modul ini, saya berharap membantu murid dan rekan sejawat dalam menyelesaikan masalah melalui coaching dengan model TIRTa. Meliputi: Tujuan yakni Menyampaikan tujuan coaching Identifikasi: Memberikan pertanyaan-pertanyaan dan umpan balik yang mengarah pada identifikasi potensi coachee. Rencana Aksi: Memberikan pertanyaan-pertanyaan dan umpan balik mengenai rencana aksi coachee dalam menyelesaikan permasalahannya Tanggung jawab: memberikan pertanyaan-pertanyaan dan umpan balik mengenai komitmen coachee dalam menjalankan rencana aksinya.

 

 

 

Hambatan dalam praktik coaching adalah murid masih tidak terbuka dalam mengidentifikasi diri sehingga sulit mengantar coachee menggali potensi untuk menyelesaikan masalah.

Kesimpulan dari materi adalah sorang coach memotivasi coachee dengan menggali potensi untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi agar menjadi lebih baik.

 


0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...