KOTAK 28 OKTOBER

 

Zirah perang entah letaknya di mana

Bahkan nyalipun telah tercecer

Luluh lumpuh bersama teriakan tak tentu

Lalu adakah sumpah dapat berbalik di arah bersamaan


Sumpahmu sumpahku tentang tangan- tangan derit juang

Menggamit di sela-sela liukan angin

Bahkan derit jemari tak lagi gemulai

Di antara zirah-zirah berjubah elang


Sungguh terbayang ruang waktu dalam kisah

tentang engkau dan aku adalah satu kasih

Dalam menggenggam batu denyutan api

Tuk menyatukan narasi tentang prosa senja kemerdekaan

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...