Datok Beach

Tanggal 9 Desember 2020 sebagai hari libur seiring pemilihan umum pemerintah daerah. Setelah melaksanakan hak memilih selaku warga negara yang nasionalisme. 

Liburan hari ini  di sempatkan pesiar ke pantai datok bersama keluarga. 





Kabupaten  Majene  sebagai  salah  satu  daerah  di  Sulawesi Barat memiliki potensi spesial interets tourisme Datok Beach adalah salah satu wisata bahari yang jarang tersentuh oleh wisatawan. Pantai Dato Majene sendiri berjarak kurang lebih 7 km dari pusat kota Majene. Untuk menuju ke lokasi Pantai Dato Majene dapat ditempuh dengan  menggunakan kendaraan darat pribadi atau carteran, kira 15 menit dari kota Majene.


Pantai Dato Majene ini memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri berbeda dengan pantai-pantai lain di wilayah Pulau Sulawesi. Selain memiliki panorama alam pantai tropis yang sangat indah, pantai ini juga tergolong masih alami dan terjaga dengan baik. Oleh karena itu, Pantai Dato Majene ini menjadi salah satu lokasi berwisata keluarga yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan terutama pada saat akhir pekan dan hari libur. 

Keindahan Datok beach ini adanya hamparan pasir putih lembut dan juga batu karang yang ada di sepanjang garis pantai memang terdengar begitu menenangkan. Gambaran seperti ini yang bisa Anda dapatkan ketika mengunjungi Pantai Dato. Pantai indah ini memang menjadi kebanggaan dari warga Kabupaten Majene.  Apalagi sepanjang garis pantai Anda bisa menemukan banyak jenis kepiting dan kerang. Perairan lepas pantainya juga relatif tenang. Semua kelebihan yang dimiliki ini tentu menjadi daya tarik yang cukup besar bagi para wisatawan. Sementara mereka yang hobby snorkeling dan menyelam juga akan dimanjakan oleh keindahan bawah laut yang masih terjaga dengan baik.

Ada terumbu karang alami dan berbagai ikan warna-warni serta penghuni laut yang bisa dengan mudah Anda temukan. Pantai ini juga masih alami serta menarik minat wisatawan untuk berkunjung terutama di hari libur.

 


Salam sehat

salam semangat

Bersyukur selalu


0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...