Goresan Pena dari siswa

 

MALU

Karya : Agam Aslam Adigama

 

            Namaku Agam Aslam Adigama, siswa SMA yang telah berlenggang dari masa putih biru, dan ini adalah hari terakhirku belajar di bangku Sekolah Menengah Pertama. Saat itu, aku dan kawan-kawanku bersorak ria bersama. Kala itu aku berfikir, dimana aku akan melanjutkan pendidikan ku? Diluar kota? Atau didalam kota?. Jadi aku meminta saran kepada sahabat, teman kelas, dan guru-guru SMP ku.

 

“Diluar saja Gam, jangan sia-siain otak lu tuh!” Kata teman-temanku

 

Tapi, aku berfikir jika aku sekolah diluar aku sama siapa? Tinggal sama siapa? Rasanya pasti canggung diluar sana. Jadi aku lebih memilih sekolah didalam (dalam kota) saja, yaitu SMA Negeri 1 Majene.

            Kala itu, aku yang tengah menikmati libur panjang seusai ujian, hilang karena belajar untuk menghadapi ujian masuk sekolah di SMA Negeri  1 Majene. Belajar belajar dan terus belajar. Beberapa hari sebelum ujian, aku selalu bermain game ke rumah temanku. Saat itu, aku hampir lupa semua pelajaran yang aku pelajari sebelumnya karena game tersebut. Dan pada hari itu aku menyadari bahwa game sangat buruk bagiku, tapi aku tetap saja bermain.

            Sesampainya pada hari ujian, aku yang terbangun dari lelapku langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat subuh, setelah itu kuambil buku yang tergeletak di kamarku. Inilah aku, yang sangat tidak setuju belajar di hari yang lumayan jauh sebelum ujian. Mengapa? Karena prinsip tersebut sangat tidak berarti bagiku, dan prinsip yang aku terapkan yaitu belajar di hari berperang  dengan komputer.

            Aku dan kawan-kawanku  Ari, Irfan, Rahmat, Hapati yang juga hendak mengikuti ujian di SMA Negeri 1 Majene, telah meniggalkan gubuk masing-masing. Sesampainya disana, kami hanya termenung menunggu jadwal kami untuk masuk kedalam ruangan. Seusai ujian, kami meniggalkan SMA Negeri 1 dan kembali kerumah masing-masing sambal menunggu hasil ujian yang telah kami lewati.

            Dihari pengumuman, aku dan teman-temanku kembali lagi ke SMA Negeri 1 Majene untuk melihat pengumuman dan menghadiri penyampaian khusus yaitu informasi mengenai MPLS ( Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah ).

 

”Waduh MPLS lagi, malas ah…”  Kataku.

 

Terpaksa aku dan teman ku yang lainnya mengikuti acara MPLS selaku siswa baru di SMAN 1 Majene.

Di hari pembukaan acara tersebut aku sangat ingin satu gugus dengan teman-temanku. Soalnya aku belum mengenali siapa-siapa kecuali teman-teman SMP ku. Setelah di buka secara resmi, tibalah waktu pembagian gugus. Jeng jeng jeng.

 

“Gugus satu, Muhammad Ari Al Fauzan, Muhammad Syahrial, dan seterusnya”

“Namaku gak ada nih, gak sama Ari lagi dong. Mungkin namaku ada di gugus dua, siapa tahu aku sama Irfan”

           

            Selanjutnya gugus dua pun dibacakan oleh panitia.

 

“Gugus dua, Agam Aslam Adigama”

“Tuhkan, namaku di gugus dua” ucapku dalam hati

“Siti Nur Azila”

“Waduh… siapa ini?” kata ku

“Miranda Putri Sekar Ayu”

“Fyuhh… Untung ada orang yang kukenal”

“Reza Abdul Rahman”

“Yoshh, sama Reza”

           

            Dan seterusnya.

            Ternyata, Si Irfan di gugus lima, Hapati dan Rahmat di gugus tiga.

 

“Biarlah, walau tak sama gugus siapa tahu bias sama kelas nantinya”

           

            Di jadwal berikutnya, kami disuruh untuk masuk kedalam gugus masing-masing. Seingatku gugus dua waktu itu ada di kelas XII IPS. Didalam kelas tersebut sudah ada kakak-kakak gugus salah satunya ketua osis di SMAN 1 Majene Periode 2018/2019 yaitu kak Muh.Fiqri Siddiq. Waktu itu dia belum menjadi ketua osis. Selepas itu, kami diperintahkan untuk membersihkan kelas-kelas yang indahnya seindah surga tong sampah.

            Di hari berikutnya, lagi-lagi kami diperintahkan untuk membersihkan, tapi untung hanya gugus masing-masing. Entah mngapa kakak-kakak panitia di marahi oleh seorang guru. Guru itu waduh bukan main marahnya.

 

“Mampus gua, dapat guru begitu di sekolah ini” Kataku sambil kesal

 

            Kakak-kakak panitia kembali ke gugus masing-masing kak Fiqri pernah cerita sama aku.

           

“Nama guru itu siapa kak? Kok kayak begitu sih?” Tanyaku ke kak Fiqri.

“Dia itu Bu Herlina, dia memang begitu tapi dia marah pasti ada suatu kesalahan dari kerja kami, kami juga yang salah kok. Tapi, kalua kamu sudah dilihat jelek dimatanya sekalipun kamu tidak akan pernah diikutkan dalam lomba apapun” jawab kak Fiqri.

“Dih… jahat banget tuh guru, segitunya sama siswa” Ujarku.

 

            Jadi, itulah yang kami ceritakan tentang dia. Aku berfikir, bagaimana jika aku yang dilihat buruk olehnya, pasti hidupku akan suram di sekolah ini, sekolah ini bagaikan neraka yang penjaganya Bu Herlina.

 

“Kalau aku tidak ikut lomba samasekali, tujuanku sekolah apa? Masa hanya untuk belajar tanpa menyumbang prestasi sedikitpun” Kataku dalam hati.

           

            Aku sangat pusing memikirkan hal itu. Tapi sudahlah jalani saja. Semenjak aku mendengar cerita dari kak Fiqri, aku merasa tertekan untuk bersekolah di sekolah ini.

            Di hari berikutnya, kami selaku siswa baru di SMAN 1 MAJENE masih menjalani MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Pada hari itu, kami menerima materi dari beberapa guru yang ada di SMAN 1 MAJENE seperti Muliadi,S.Pd, M.Pd, Kasman,S.Pd, M.Pd, Herlina,S.Pd, M.Pd, Drs.Bachtiar, Hj. Salwah Tahir, S.Pd, M.Pd. Mereka adalah para pemateri dalam acara MPLS SMAN 1 MAJENE. Hari itu, pemateri yang masuk masuk salah satunya Herlina, S.Pd , M.Pd. Kami sangat takut melihat kedatangan beliau terutama aku. Dengan muka santainya dengan suasana yang agak canggung, itulah yang membuat kami merasa takut dengannya. Saat itu, ia pun mulai angkat bicara.

 

“Jadi, sudah kenal dengan saya?” Tanya Bu Herlina

“Sudah bu ……” Jawab peserta MPLS

 

            Ia langsung menanyakan siapa yang sering meraih peringkat pertama atau yang berprestasi di Sekolahnya (SMP).

 

“Disini, siapa yang sering rangking satu di sekolah menengahnya dulu?” Tanya Bu Herlina.

“Agam bu, Agam …..Agam…..” Kata teman-temanku waktu SMP dulu.

“Waduh, kena lagi gua” Kataku dalam hati.

“Yang Namanya Agam dimana? Kok gak pernah nyahut kalau dia selalu rangking satu. Jadi yang tidak menyahut saya do’a kan supaya tidak pernah rangking satu”

Kata Bu Herlina.

“Dih…Ini guru songong banget, pake doain aku kayak gitu segala” Kataku dalam hati.

“Saya bicara seperti itu karena kenyataannya, dia kan tidak pernah angkat bicara kalau dia selalu rangking satu. Jadi, itu sama saja dia mendoakan dirinya sendiri untuk tidak rangking satu disini.” Kata Bu Herlina dengan nada menyindir.

 

            Mendengar sindirannya, aku makin tidak suka berada di sekolah ini karenanya. Setelah itu, semua organisasi yang ada di sekolah memaparkan atau memperkenalkan organisasinya. Salah satu nya adalah KIR, organisasi yang ingin aku dalami, karena saran dari kakak juga sih.

           

“Perkenalkan nama saya Azzahra Nabila, ketua KIR periode 2017/2018” Kata kak Azzahra.

“Wah… kayaknya organisasi ini bagus nih” kataku

 

            Jadi, kak Azzahra memperkenalkan organisasinya. Tapi, hanya satu yang membuatku sangat kesal dan jengkel karena pembinanya dia lagi dia lagi, si guru killer.

 

“Arghhhhhh… dia lagi dia lagi kenapa harus dia, pembina OSIS dia, pembina MPK dia. DIA DIA DIA KENAPA HARUS DIA!!!!”

 

            Sepertinya, aku tambah tidak betah di sekolah ini. Aku mana betah bersekolah dengan guru seperti itu. Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur menuntut ilmu di sekolah yang seperti penjara. Rasanya seperti ingin pindah sekolah saja.

            Keesokan harinya, pengumuman kelas di tempel di papan pengumuman. Aku sangat berharap sau kelas dengan Ari, Irfan, Hapati, dan kawan-kawan lainnya.

Tapi, harapanku hanyalah harapan semata Ari dan Irfan di kelas X MIPA 1 dan aku di kelas X MIPA 2. Walaupun begitu, aku harus mencari cara agar dapat pindah kelas.

 

“Gam, aku dengar-dengar tahun lalu bias kok pindah kelas, asalkan kamu tukaran sama teman kelasku yang di MIPA 1” Ujar Irfan

“Serius nih?” Tanya ku dengan penuh harapan

“Iya aku serius, coba kamu tanya sama bu Herlina, siapa tau dia bias membantu kamu untuk pindah kelas.” Jawab Irfan

“Nggak ah… aku takut.” Kataku

“Ayolah, kamu pasti nggak di apa-apain kok, cuman tanya aja supaya ada kepastian.”

“Duuuh, gimana nih, malas ah bicara sama guru Super Duper Killer itu. Tapi, kalau nggak ngomong sama dia, nggak ada hasilnya juga” Pikir ku didalam hati.

 

            Aku dan Irfan bertanya ke bu Herlina tentang proses pindah kelas itu. Tapi kenyataannya tidak sesuai ekspektasiku lagi. Katanya itu sudah tidak bisa lagi. Didalam hatiku tercampur semua rasa sedih dan marah. Mau di apakan lagi, kalau memang begitu ya sudahlah.

            Di hari kemudian, itulah hari pertama ku belajar eksklusif di kelas bersama teman-temanku yang lainnya, tapi hanya beberapa teman yang akrab bersamaku. Saat jam istirahat, ada kakak kelas yang lewat di depan kelasku, kebetulan, dulu dia juga kelas MIPA 2.

 

“Kak… waktu kelas sepuluh kakak kelas apa? MIPA 2?” Tanyaku

“Iya, tapi aku sengaja pindah ke MIPA 2, karena wali kelasnya bagus dan lain-lain. Pokoknya kamu nggak akan menyesal belajar di MIPA 2.”

“Oke kak. Makasih ya kak.”

“Sama-sama”

 

            Selepas itu, pemikiranku tiba-tiba berubah 180 derajat, yang dulunya pasrah tiba-tiba jadi bersemangat tinggal di kelas MIPA 2. Beberapa jam kemudian, ada orang yang membagikan jadwal pembelajaran selama semester satu. Jadi, yang pertama aku cari adalah guru Super Duper Killer itu.

 

“Dimana ya nama guru itu?” kataku dalam hati.

“Nah ini dia…”

“YA TUHAAAAN…. KENAPA DIA YANG HARUS MENGAJAR DI KELASKU. Kenapa nasib ku gini banget sih.”

 

            Seiring berjalannya waktu, tibalah waktu dimana ia mengajar. Saat ia sudah di depan pintu kelas, aku dan teman-temanku diam seketika. Cara jalannya, tatapannya masih santai, tapi kayak membawa aura-aura yang tidak baik bagi perasaan orang. Dia meminta untuk disiapkan. Kebetulan aku yang menjadi ketua kelas di X MIPA 2.

 

“Ketua kelasnya mana?” Tanya Bu Herlina

“Sa..Saya bu.” Jawab ku

“Oh, Siapkan.”

“I…Iya bu.”

           

            Pelajaranpun dimulai, dia bercerita sedikit tentang dirinya, bahwa hal yang terjelek dari dirinya yaitu tidak suka di bohongi, tidak suka di PHPin, dan lain-lain. Dia mengecek kehadiran di kelas ku.

 

“Agam Aslam Adigama.”

“Hadir bu.” Sahutku

“Ooo… Ini yang Namanya Agam” Katanya

 

            Pasti diam au cerita lagi tentangku, tentang apa saja, aku tak peduli.

 

“Sebenarnya Agam itu”

“Tuhkan, dia cerita lagi” kataku dalam hati

“Agam itu sebenarnya di MIPA 1, tapi entah kenapa dia ada disini.” Kata Bu Herlina

 

            Rasa kekecewaanku makin bertambah rasanya sakit sekali, yang seharusnya di MIPA 1 jadi di MIPA 2. Di minggu berikutnya ada kakak kelas yang mengatakan kalau besok akan di adakan perekrutan anggota KIR. Aku, Ari, dan Irfan sangat berantusias mengikuti organisasi tersebut, lagi-lagi terngiang-ngiang di kepalaku bahwa pembina KIR adalah Bu Herlina, S.Pd, M.Pd.

            Keesokan harinya, pada jam pulang sekolah kami disuruh untuk berkumpul di kelas XII MIPA 5, hari itu banyak kakak senior yang sudah menuggu kedatangan kami, termasuk kak Azzahrah. Dia bercerita panjang kebar lebar tentang KIR dan dirinya selama berada di KIR. Setelah itu, datanglah pembina KIR dengan cara jalannya itu-itu terus, sangat santai. Saat itu, disampaikanlah kriteria agar dapat masuk di dalam organisasi KIR. Kriterianya yaitu membuat esai.

 

“Hah…Esai? Esai soal?” Tanyaku

“Bukan… Esai itu hampir saja semacam teks eksosisi” Jawab kak Azzahra

“Ooo… gitu.”

 

            Semenjak hari itu, aku sangat pusing membagi waktu ku. Jadi aku mati-matian begadang untuk mengerjakan esaiku. Setelah bersusah payah akhirnya di terima juga.

            Setelah kurang lebih tiga minggu di KIR kamipun melakukan pelatihan karya tulis ilmiah. Disana kita belajar untuk membuat sebuah karya tulis dan mengembangkan pemikiran-pemikiran kita. Disana, kita uga melakukan observasi sebagai bahan rancangan penelitian kami pada saat pelatihan. Saat itu aku sangat pusing menentukan ide dan membuat BAB 1. Pada akhirnya hampir semua kelompok pelatihan dating kerumah bu Herlina. Disana aku tiba-tiba berfikir BU Herlina luayan asik juga kalau moodnya bagus. Saat itu, kami bercanda, bersenda gurau bersama teman-teman dan kakak-kakak senior KIR.

            Lepas dari pelatihan, tidurku sangat tidak terjaga, jadwalku sangat berantakan, dan lain-lain. Aku menjalani pembelajaran seperti biasa. Hari itu adalah jam pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Herlinapun masuk kekelasku dengan gaya sepertu biasanya, santai. Kalau dilihat-lihat Bu Herlina itu selalu pakai pakaian yang sederhana, jilbabnya sederhana(model tertentu)yang selalu dipakai kalau pergi kesekolah, alas kaki sederhana, jarang pakai make-up bahkan tidak pernah.

            Semenjak di KIR aku dengan Bu Herlina cukup dekat sering bercanda dan diskusi tenang hal lain-lain. Hal mengenai Bu Herlina itu kejam aku buang jauh-jauh, tapi lumayan menyeramkan sih kalau dia marah, kami juga tidak sering bercanda, sering kali kami serius menanggapi ide-ide yang aku keluarkan.

            Setelah satu bulan di KIR, ada banyak event-event yang kami ingin ikuti, tapi, begitulah. Event tersebut seperti ISPO dan OPSI. Aku berencana untuk mengikuti ISPO bersama Reza, kami mengusung karya bertemakan pemanfaatan mengkudu menjadi biogas. Tapi kami di kejar oleh waktu dan tugas yang menumpuk, itu juga salah kita yang masih sulit membagi waktu. Aku sangat merasa sangat bersalah karena telah mengecewakan Bu Herlina yang terlah mensupport para anggota KIR untuk berkarya. Aku pribadi sangat malu kepada Bu Herlina.

            Jujur, aku belum bisa membanggakannya, diriku ini masih dirundung dengan berbagai ketakutan, aku ingin melakukan hal itu tapi dihalangi oleh hal ini. Hidupku saat ini sangat hancur. Namun dibalik semua itu Bu Herlina terus menyemangati aku. Setiap istirahat aku selalu menyempatkan diri bergabung dengan diskusi yang selalu beliau bangun di ruang organisasi. Berbagai ide yang digambarkan dalam diskusi tersebut. Bahkan setiap forum diskusi selalu kita ditantang dengan ide-ide yang mana kita bisa sampaikan ke beliau sehingga ide yang kami temukan dilanjutkan dalam penelitian. Beliau selaku Pembina KIR dengar-dengar sudah selama 7 tahun. Wow..waktu yang cukup lama dan juga para anggota KIR telah banyak memboyong prestasi baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun tingkat nasional. Prestasi KIR yang ditorehkan sekolah sangat banyak dengan menghasilkan karya dan dapat mengharumkan nama sekolah.  

            Rasanya bila melihat gerakan dan prestasi yang diperoleh KIR, aku tercenung begitu luar biasa Ibu guru, ternyata beliau pun banyak meraih prestasi. Sungguh sangat menginspirasi. Sering aku merenung membayangkan sepak terjan beliau, ketegasannya berkesan, guyonnya lucu menegangkan, paling tak suka pada siswa yang tidak berkomitmen, berleha-leha.

Sungguh…pada awalnya aku hanya menilainya dari luar dan aku sangat membencinya diawal tanpa aku melihatnya lebih dalam lagi, Bu Herlina ternyata sebenarnya penyayang layaknya seorang ibu pada anak kandungnya, penuh perhatian tapi jika kamu mengabaikan petuahnya berarti menginginkannya untuk menjadi kasar maka ia akan lebih ganas dari yang kita bayangkan.

Sekarang aku sangat merasa malu dan aku sangat berniat untuk membanggakannya dalam bentuk apapun itu dibanding apa yang ia berikan kepadaku. Jujur aku mengakui, aku merasa sangat malu akan semua hal yang terngiang di benakku setiap saat mengenai KIR, Bu Herlina, dan rekan-rekanku juga. Aku tak ingin hal itu terus menerus terjadi padaku. Karena aku harus membuat beliau bangga kepadaku dan membuang rasa malu ini sejauh mungkin dari hidupku.

Terima kasih guruku.

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...