Setiap insan mempunyai
harapan dan impian dalam kehidupan. Kemauan, optimisme, dan semangat yang kita
miliki merupakan kunci untuk meraih segala harapan dan impian, serta berusaha
mengatasi berbagai rintangan yang menghadang.
Salah satu rintangan yang mungkin menghadang adalah perilaku bullying atau
perilaku perundungan. Hal tersebut bisa saja terjadi, kapan dan di mana pun
berada.
Setiap
orang menanggapi perundungan itu dengan cara yang berbeda. Ada yang tidak
terusik dengan tindakan perundungan namun ada juga terganggu. Ada yang
menderita hingga mengalami depresi berkepanjangan. Bahkan ada yang kemudian
bunuh diri. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ternyata 50% siswa
pernah mengalami perundungan di sekolah (UNICEF, 2015).
Apakah Bullying Itu
Bully adalah perilaku kekerasan fisik ataupun
mental yang dilakukan satu orang atau lebih dengan cara melakukan penyerangan
atau mengintimidasi orang lain. Bullying adalah perilaku tidak menyenangkan baik secara verbal,
fisik, ataupun sosial di dunia nyata maupun dunia maya yang membuat seseorang
merasa tidak nyaman, sakit hati dan tertekan baik dilakukan oleh perorangan
ataupun kelompok. Bullying dianggap telah terjadi bila seseorang merasa tidak
nyaman dan sakit hati atas perbuatan orang lain padanya.
Bullying diibaratkan sebagai benih dari banyak kekerasan lain, misalnya:
tawuran, intimidasi, pengeroyokan, pembunuhan, dll. Sebagai benih kekerasan,
bila perundungan bisa ditekan, maka kekerasan yang lebih parah akan bisa
dicegah.
Mengenal Efek dan Ciri-ciri
Korban Bullying
Tindakan bully tidak
hanya terjadi ketika pelaku melakukan kekerasan secara fisik kepada korban,
seperti memukul, menampar, atau menendang. Bully juga bisa
dilakukan tanpa melakukan kekerasan fisik, yakni secara verbal
seperti mengejek, memanggil seseorang dengan sebutan yang hina, menyebarkan
gosip tentang korban, atau mempermalukan di depan banyak orang.
Zaman sekarang ini tindakan bully makin
mudah dan marak terjadi, kerap dikenal sebagai cyber bullying.
Pelaku cukup memakai media sosial untuk menjatuhkan korbannya, seperti
menyebarkan teks, foto, atau video bertema negatif tentang korban.
Perilaku bully tersebut menimbulkan banyak efek negatif bagi
korban, di antaranya:
- Mengalami
gangguan mental seperti depresi, rendah diri, cemas, sulit tidur
nyenyak, ingin menyakiti diri sendiri, atau bahkan keinginan untuk bunuh
diri.
- Menjadi
pengguna obat-obat terlarang
- Takut
atau malas berangkat ke sekolah
- Prestasi
akademik menurun.
- Ikut
melakukan kekerasan atau melakukan balas dendam. Sebagai contoh, pria
yang pernah dibully oleh wanita bisa menjadi seorang
misoginis.
Perhatikan ciri perubahan tingkah
laku anak, misalnya tidak semangat berangkat ke sekolah, prestasi belajar
menurun, atau nafsu makan berkurang. Perubahan lainnya yang bisa tampak,
seperti:
- Tiba-tiba
kehilangan teman atau menghindari ajakan pertemanan.
- Barang-barang
miliknya sering hilang atau hancur.
- Mengalami
gangguan tidur.
- Kabur
dari rumah.
- Terlihat
stres saat pulang sekolah atau usai mengecek ponselnya.
- Mungkin
ada luka di tubuhnya.
Apabila ciri-ciri tersebut terjadi
pada seseorang maka ajaklah berbicara dari hati ke hati. Mulailah obrolan
dengan cara yang halus agar anak mau mengutarakan isi hatinya. Ajari dia
bagaimana cara menyikapi orang-orang yang berlaku kasar kepadanya, seperti
menghindar ketika bertemu dengan mereka atau katakan, “Jangan ganggu saya.”
Jangan mengajari untuk balas melawan
atau melakukan kekerasan kepada para pelaku. Ajarkan agar korban tetap tangguh,
dan jangan beri kesempatan para bully untuk merasa menang
karena berhasil membuatnya putus asa. Berikan asupan motivasi dan semangat untuk tetap percaya diri dan tetap bergaul
dengan anak-anak lain yang baik.
Stop Bullying
Untuk menghentikan bully,
ketika melihat tindakan bully sebaiknya melaporkan kepada yang berkepentingan,
apabila yang melakukan anak sekolah maka datanglah ke sekolah, lalu melaporkan
orang yang melakukan kekerasan. Dengan begitu, pihak sekolah bisa menanganinya
secara langsung dan melaporkan kepada orang tua yang bersangkutan
melakukan bully.
Para pelaku bully harus
segera dihentikan. Jika terus dibiarkan, perilaku ini bisa merusak anak Anda
dan generasi muda. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa orang tua lakukan
untuk mencegah tindakan bully:
- Tanamkan
nilai-nilai moral sejak dini.
- Ajak
anak untuk bersama-sama menilai dan membedakan perbuatan yang baik dengan
perbuatan yang tidak patut dilakukan pada sesama.
- Bangun
komunikasi yang baik dengan anak, serta dampingi ia dalam proses tumbuh
kembangnya.
- Ajarkan
anak cara bersikap asertif, alias tegas tapi selalu sopan, agar ia tidak
mudah ditindas dan menjadi people pleaser.
- Anda
juga bisa menasihati anak Anda agar berani melaporkan kepada pengajar di
sekolah saat mengalami perilaku bully.
- Jika
anak Anda merasa tidak dapat berbicara langsung, mungkin dia bisa menulis
surat atau mengirim email kepada mereka.
- Bila
anak Anda adalah pelaku bullying, maka ajaklah anak berdiskusi
dan cari tahu penyebabnya. Beri ia penjelasan bahwa hal ini bukanlah
perilaku terpuji, dan tidak dapat diterima.
- Orangtua
bisa mengajak anak (baik pelaku maupun korban) untuk menjalani konseling agar
pola pikir dan tingkah lakunya bisa lebih terarah dengan baik.
- Yang
tak kalah penting, jadilah contoh teladan yang baik bagi anak. Sebab sadar
atau tidak, anak akan mencontoh orang tua sebagai tolok ukur dalam
bersikap.



0 Komentar