Merdeka Belajar

 

Merdeka Belajar Menginspirasi Peserta Didik Berinovasi

Oleh: Herlina, S.Pd., M.Pd.

“...Kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu dipelopori atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain. Akan tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri”. Ki Hajar Dewantara.

 

Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Tujuannya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Ki Hajar Dewantara). Hal tersebut bermakna pendidikan harusnya berasaskan kemerdekaan. Manusia diberi kebebasan dengan tetap sejalan dengan aturan yang berlaku. Demikian juga di sekolah peserta didik diberi kebebasan menimbah ilmu dengan tetap berpegang pada aturan sekolah. Peserta didik harus memiliki jiwa merdeka.

Merdeka belajar adalah bebas (dari penghambaan, penjajahan, dan sebagainya), tidak terkena atau lepas dari tuntutan, dan tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu (dalam KBBI). Merdeka belajar merupakan salah satu program kebijakan untuk mengembalikan sistem pendidikan nasional kepada esensi undang-undang. Dalam hal ini memberikan kebebasan kepala sekolah, guru dan peserta didik untuk berinovasi, bebas untuk belajar dengan mandiri dan kreatif.

Wahana merdeka belajar sebagai eksplorasi bagi peserta didik calon pemilik bangsa akan lebih berkembang dalam menunjukkan bakat yang mereka punya. Setiap anak tentunya memiliki bakat yang terpendam dan di sinilah tugas para orang tua dan guru untuk membantu peserta didik dalam mengeluarkan bakat yang mereka punya.

Berdasarkan misi merdeka belajar sesuai filosofi Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara untuk menciptakan ekosistem pendidikan nasional yang lebih sehat, berasas gotong royong dengan menghadirkan iklim inovasi sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter.

Menurut Peter Serdyukov, “Innovation in education: what works, what doesn’t, and what to do about it? dalam Journal of Research in Innovative Teaching & Learning (2017), fokus utama inovasi pendidikan diorientasikan pada pengembangan teori dan praktik pembelajaran, peserta didik, orang tua, komunitas, masyarakat, dan budayanya. Aplikasi teknologi membutuhkan landasan teoritis yang kokoh berbasis riset dengan  tujuan yang jelas, sistemik, dan pedagogi yang baik.

Pertanyaan semakin berkecamuk, bagaimana aplikasi filosofi merdeka belajar pada peserta didik? Karena merdeka itu berarti bebas tanpa tuntutan. Arti kata 'merdeka" sangat subjektifitas, sehingga membawa arah pembelajaran menjadi liar. Dalam hal ini merdeka belajar bukan berarti membebas-lepaskan peserta didik untuk memilih antara belajar atau tidak. Pemikiran seperti itu tidak sesuai filosofi pendidikan. Mengacu kepada pemikiran Ki Hadjar Dewantara, merdeka itu berinovasi. Peserta didik harus terbentuk dan terbiasa berinovasi dalam proses belajarnya.

Peserta didik kategori merdeka adalah peserta didik yang kreatif, sadar belajar, berkarakter, yang tidak terkekang oleh mindset menunggu diperintah, baru mau belajar, baru mau berkarya. Peserta didik merasa senang dan bersemangat menciptakan iklim belajar yang baik. Gagasan Ki Hadjar Dewantara tersebut sangat relevan dengan gaun merdeka belajar dalam mewujudkan pendidikan yang memerdekakan.  

Makna kemerdekaan belajar sama membentuk manusia harus dimulai dari mengembangkan bakat. Biarlah peserta didik berkreatif dan berinovasi menurut ide dan gagasannya dan bebas bergaya sesuai kemampuan. Setiap pembelajaran materi apapun dapat dibuat menjadi pembelajaran yang kreatif dan inovatif serta menyenangkan.

Kurikulum bukan dijadikan alat untuk menjajah anak didik. Terjajahnya anak didik dalam kurikulum, malah membunuh pengembangan bakat. Jangan sampai peserta didik terjajah intelektualisme. Padahal bakat merupakan  kiblat bagi sang guru dalam membina dan membimbing. Guru harus memperhatikan apa yang dapat dikembangkan dari anak didiknya. Guru harus jeli menelisik kebutuhan anak didik, mana yang harus didorong, dan apa yang harus dikuatkan.

Kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas, banyak peserta didik yang merasa jenuh dan akhirnya tidak acuh saat guru menjelaskan pelajaran. Hal itu bukan sekali atau dua kali terjadi dalam setahun. Bisa dibilang kasus seperti ini sering kali terjadi di setiap harinya. Sikap para peserta didik cenderung berbeda-beda di setiap pelajaran. Mereka jauh akan lebih kondusif saat mata pelajaran yang diajar oleh guru, sedangkan mereka akan terlihat ekspresif ketika sedang belajar seni dan budaya, begitupun sebaliknya merasa tertekan.

Kenyataan tersebut dapat dilihat bahwa sebagian peserta didik merasa tertekan dan tidak nyaman. Tanpa disadari, peserta didik yang awalnya sudah merasa tertekan di awal akan sulit dalam menerima pelajaran selanjutnya. Mungkin mereka bisa menjawab pertanyaan yang diberikan, tetapi di lain waktu mereka akan dengan santainya lupa pelajaran itu seperti angin lalu.

Kemerdekaan dalam belajar inilah peserta didik akan bebas dalam berinovasi, tidak terpaku pada aturan-aturan yang mengikat dan mengekang pikiran kritis mereka. Dengan membiarkan mereka bebas dalam bereksplorasi, peserta didik akan mendapatkan wawasan baru, baik dari guru ataupun dari sekitar lingkungan. Semakin lama karakter peserta didik akan terbentuk dan menjadi lebih berkompeten dari sebelumnya. Itulah yang menjadi tujuan dari merdeka dalam belajar, peserta didik dituntut untuk lebih berinovasi dan bebas. Selain cakap ilmu, mereka juga akan cakap dalam bersosialisasi.

Memenuhi kebutuhan pengembangan bakat pada setiap diri peserta didik, mereka harus merasa merdeka. Namun, merdeka yang dimaksud bukan bermakna mutlak. Peserta didik bebas memilih berdasarkan minat dan bakat serta merdeka untuk berkembang seluas mungkin. Angka tidak boleh menjadi tolak ukur dalam pengembangan bakat.

Peserta didik punya kebebasan dalam berinovasi dalam proses belajar. Dalam hal ini peserta didik diharapkan tidak boleh bersikap monoton menerima pelajaran yang berpusat dari guru. Melainkan harus mengasah minat dan bakat untuk meningkatkan skill dalam menambah wawasan dalam berpikir kreatif dan kritis. Dengan meningkatnya cara berpikir akan membentuk karakternya lebih mandiri dalam bersikap, bergaul dan lebih berani dalam mengutarakan pendapatnya.

Peserta didik tentunya akan menyukai proses belajar yang seperti yang digaungkan dalam Ki Hadjar Dewantara dengan konsep belajar 3 dinding. Satu sisi dinding terbuka menegaskan bahwa tak ada batas atau jarak antara di dalam kelas dengan realita di luar. Konsep ini seirama dengan merdeka belajar yang menggema di tanah air kita ini.  Diharapkan makna filosofi tersebut menggaungkan merdeka belajar bagi peserta didik dalam menempuh sekolah. Dalam kebebasab belajar tidak melupakan karakter. Karena keteladanan menjadi karakter sangat menginspirasi untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Peserta didik tetap harus bekerja keras dan membangkitkan semangat belajar bagaimanapun kebebasan itu ada, terutama kebebasan berpikir, berpendapat, dan bertindak dengan memaknai fenomena dan realita dengan positif .

Dengan demikian peserta didik berkehendak sendiri, bukan pamong gurunya,  yang memaksakan harus jadi putih, harus jadi merah. Untuk itu sesuai dengan in Tut Wuri Handayani, berarti mendorong dan menguatkan. Namun, cara mendorong dan memberi kekuatan belajar tak boleh sembarangan. Rentang kendali harus tetap ada, agar nantinya menjadi manusia tetap terjaga.

Kesetaraan yang terbentuk kemerdekaan peserta didik dalam belajar. Mereka dibebaskan dalam berpikir kreatif dan berinovasi. Peserta didik yang sudah terbiasa dalam bertindak kreatif dan mandiri akan membentuk karakter yang berkompetensi di kemudian hari. Tentunya akan memiliki kompetensi tinggi yang siap menghadapi dunia pekerjaan dan berguna bagi bangsa dan negara.

Esensi merdeka belajar itulah sebagai spirit mencari dan mengembangkan ilmu. memperkaya khazanah intelektual. Peserta didik berlatih untuk membuka horison dan atmosfir baru dalam pengembangan bakat dan minat agar dapat berpikir kritis, berkolaborasi, komunikatif dan kreatif. Peserta didik tetap berkomitmen belajar bersungguh-sungguh dan tetap berjuang mengikuti prosesi untuk meraih prestasi.  Di era digital dan disrupsi, inovasi belajar yang efektif  niscaya hasil belajar berkualitas tinggi dan berkarakter.  

 

Referensi:

Filosofi Pendidikan, Ki Hajar Dewanatara

https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/mengenal-konsep-merdeka-belajar-dan-guru-penggerak

 

 

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...