Jurnal Refleksi 8

 






Model ini diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001). Model yang dikenal dengan Model “What?” ini pada dasarnya terdiri dari 3 bagian, namun dapat dikembangkan dengan berbagai variasi bergantung pada pertanyaan detail yang dipilih.

 1) WHAT? (Deskripsi dari peristiwa yang terjadi)

 - Apa yang terjadi?

- Apa yang saya lihat/dengar/alami?

- Apa reaksi saya pada saat itu?

- Apa yang orang lain lakukan pada saat peristiwa itu terjadi?

 2) SO WHAT? (Analisis dari peristiwa yang terjadi)

 - Bagaimana perasaan saya pada saat peristiwa itu terjadi?

- Apakah yang saya rasakan sama/berbeda dengan orang yang mengalami kejadian yang sama?

- Apakah saya masih merasakan perasaan/dampak yang sama jika dibandingkan dengan perasaan/dampak langsung setelah peristiwa?

 - Kecenderungan apa yang saya amati dari diri saya ketika menghadapi peristiwa serupa?

 - Mengapa saya bisa memiliki kecenderungan tersebut?

- Setelah mengalami peristiwa tersebut, apa hal yang berubah dari pendapat, pemikiran, atau   apapun yang Anda yakini sebelumnya?

    Pendidikan Guru Penggerak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan - Maret 2021

3) NOW WHAT? (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi)

 - Apakah kejadiannya akan berbeda jika pada saat itu saya mengambil langkah yang berbeda?

- Di mana saya bisa mendapatkan informasi tambahan agar bisa siap ketika menghadapi peristiwa serupa di masa depan?

- Dukungan apa yang saya butuhkan agar bisa menindaklanjuti refleksi saya?

 - Bagian mana yang sebaiknya saya kerjakan lebih dulu?

- Setelah Anda melakukan pembelajaran ini, apa hal baru yang ingin Anda bagikan kepada rekan atau lingkungan Anda?

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...