Pembelajaran
Berdiferensiasi
1. Pengalaman menarik pada saat melakukan proses pembelajaran di dalam kelas dengan murid yang beragam ketika saya pertama kali menggunakan model pembelajaran Projek Basid Learning. Sebelumnya proses yang saya lakukan denganmemberi instruksi kepada murid dengan menjelaskan langkah-langkah kerja menyelesaikan laporan hasil observasi. Semua murid merespon aktivitas yang akan dilakukan namun tidak semua murid menyelsaikan dengan baik sesuai instruksi kerja, bahkan ada murid tidak menyelesaikannya. Murid hanya hanyut dengan instruksi tetapi melaksanakan aktivitas acuh tak acuh sehingga menimbulkan kesan murid hanya menggugurkan tugas belajar tanpa mereka paham tujuan yang ingin dicapai. Lalu saya menggunakan model projek basid learning. Murid dengan senang hati melakukan proses pembelajaran menyusun laporan hasil observasi. Murid melakukan proses dengan mengikuti langkah PBL, murid dapat kesempatan menggali materi, berdiskusi dalam kelompoknya. Secara kontekstual murid dapat memecahkan masalah, menemukan ide, mengetahui cara menyelesaikan masalah, dan secara emosional terjalin kedekatan/keakraban sehingga terbuka menyampaikan kendala yang dihadapi murid, dengan sendirinya merespon dan kritis menanggapi. Laporan hasil observasi mereka selesai sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan sebuah usaha yang dilakukan oleh seorang guru dalam menyesuaikan proses pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar indivi setiap muridnya.
Perhatikan Video Berikut ini :
Setelah menyaksikan video di atas, menurut Anda bagaimana
seharusnya pembelajaran itu dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi? (terutama
untuk memenuhi kebutuhan belajar murid).
Video menggambarkan kelas yang
muridnya beragam. Mencermati video tersebut guru harus merancang pembelajaran
dengan memperhatikan kebutuhan belajar murid, seperti memahami karakteristik
setiap anak, kekuatan dan gaya belajar, minat anak. Dan juga harus menentukan
komponen yang lain yang dibuthkan murid seperti bahan pembelajaran, cara bertindak,
fasilitas yang mendukung, semuanya harus disesuaikan dengan kebutuhan dasar murid.
Kebutuhan dasar sebagai hasrat untuk semakin menjadi diri sepenuh kemampuannya
sendiri. Guru harus memahami tingkat kebutuhan agar dalam pelaksanaan
pembelajaran dapat membantu dan memenuhi kebutuhan belajar muridnya melalui aktivitas.
Sehingga murid dapat melakukan observasi sendiri, mengadakan analisis sendiri,
dan mampu berpikir sendiri. Lalu untuk memenuhi kebutuhan semua murid yang
beragam kemampuan, bakat, dan kebutuhan, guru harus memanfaatkan strategi yang
sesuai keunikan murid, dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan dan
menunjukkan kekuatan mereka masing-masing, bakat, dan kemampuan sekaligus
memperkuat daerah di mana mereka lemah. Berikan konten belajar dengan strategi
yang cakupannya diterima semua anak. Lalu bantu mereka untuk berpikir reflektif
agar murid dapat mengembangkan pemikirannya, pembelajarannya, dan strategi
metakognitifnya. Dengan demikian murid melatih kerampilan memproses pengalaman
belajar, mengidentifikasi apa yang mereka pelajari, memodifikasi pemahaman.
Kemudian lakukan evaluasi dengan berlanjut. Artinya hasil evaluasi dinilai
sesuai karakteristik dan kemampuan anak.

0 Komentar