Story 21 Hari Melejitkan Kecepatan Menulis

 

 

Tugas Hari ke 21

Herlina

 

Rabu, 31 Januari 2024, Pembukaan Kelas 21 Hari Menulis oleh mentor hebat Cahyadi Takariawan. Peserta berasal dari berbagai daerah, teman-teman penulis hebat terhitung 118 orang berdasarkan di WA group. Kegiatan tersebut bertemakan 21 Hari Melejitkan Kecepatan Menulis.

 

Salah satu program menulis yang bertujuan melatih kedisiplinan dan mengasah kecepatan menulis seseorang. Siapa saja bisa menulis sesuai dengan kemampuannya.Target yang akan dicapai dalam kegiatan ini adalah menulis setiap hari selama 21 hari.

.Belajar menulis itu pada dasarnya belajar dari orang lain kata pak Cahyadi Takariawan di pembukaan. Ukuran kecepatan menulis adalah penulis pemula mampu menulis 20 kata permenit. Penulis produktif mampu menulis 40 kata per menit, penulis profesional 65 kata per menit, dan sprint 83-84 kata per menit. Pada kegiatan pembukaan tersebut Pak Cah mengupas tuntas “Melejitkan Kecepatan Menulis. Beliau mengurai ukuran kecepatan menulis pada seseorang. Menurutnya bahwa tidak ada satu teknik menulis yang cocok untuk semua orang.

Beberapa teknik kecepatan menulis yang dijelaskan oleh mentor, yang menjadi acuan pada pelatihan ini adalah teori dari Monica Leonelle bahwa rata-rata orang yang dapat menulis anatara 150 sampai 250 kata persesi yakni menulis 8 menit. Teknik tersebut dikembangkan untuk melatih dan mengukur kecepatan menulis.

Bukti menulis dalam kegiatan pelatihan 21 Hari Menulis dikemas dalam 21 kali pertemuan, yang mana menulis 1 sesi selama 8 menit di hari pertama sampai hari ke 7. Pada hari ke delapan sampai hari ke empat belas yakni menulis 2 sesi selama 16 menit, boleh dilaksanakan 2 kali dengan rincian tetap 8 menit dalam 1 sesi. Demikian pula pada hari ke 15 sampai 21 menulis 3 sesi dengan rincian setiap sesi 8 menit boleh langsung 24 menit.Tujuannya adalah mengasah kemampuan dan kecepatan menulis  dalam setiap hari.

Di setiap voice Pak Cahyadi selalu mengingatkan kepada peserta untuk tetap konsisten menulis 8 menit di setiap sesi. Hal ini benar-benar melatih kejujuran dan mengasah keterampilan menulis kita.. Beliau konsisten menyampaikan informasi tentang apa yang akan dilakukan esok hari untuk melancarkan kecepatan menulis kita.  Peserta sangat antusias mengikutinya. Luar biasa yang terjadi pada esoknya di group kecil B setoran tugas setiap peserta bersahutan pertanda semangat menulis.

Keingin menulis selalu ada, namun yang perlu saya tingkatkan dalam kegiatan ini adalah disiplin menulis agar dapat meningkatkan kecepatan menulis saya. Hasil menulis sebagian saya posting di blog saya. Selama mengikuti kegiatan 21 hari memenulis, menghasilkan tulisan tentang Rasa, Guru, Tips Guru Keren, Hari Ahad, Berkebun di Lahan Sempit, Rindu Ayah (puisi), Semangka Buah Favorit Keluarga, Hobi Menulis Tapi Belum Jadi Penulis, Insiden Hari Itu, Profesi Guru, Kehadiranku (puisi), Reviuw buku: Meraya Di Halaman, Antrian Pemilih, Pemilih dan Kecoa, Belajar Menulis, Dilema, Budaya Salam, Kepergian Ayah (bersambung), Kepergian Ayah (Lanjutan), dan Story 21 Hari Melejitkan Kecepatan Menulis (Refleksi).

Alhamdulillah, sangat senang mengikuti kegiatan 21 Hari Melejitkan Kecepatan Menulis. Program pelatihan ini membawa dampak utamanya semangat menulis. Membangkitkan rasa ingin menulis terus-menerus dan menggebu. Menulis itu mengasyikkan, Menulislah setiap sesi 8 menit. 


Terima kasih terhingga mentor hebat telah membersamai dan memfasilitasi kegiatan 21 hari menulis, terima kasih moderator handal.

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...