Profesi
Guru
Herlina
10
Februari 2024
Awalnya
saya menjadi guru sukarela tahun 1998, kemudin lolos menjadi CPNS tahun 2004.
Kini usiaku 52 tahun.
Bagiku
guru itu adalah sosok ibu memiliki dedikasi tanpa jasa, mengilhami ketulusan yang
penuh kasih sayang. Guru menjadi pembimbing dari kekuatan dan potensi-potensi
peserta didik yang telah dimiliki. Membimbing peserta didik menggali kekuatan
yang dimiliki sehingga memiliki kemampuan untuk mengeskplorasi diri dalam
mengembangkan bakat minat untuk meningkatkan keterampilan demi menyongsong masa
depan. Guru menuntun peserta didik dengan berbagai karakteristik berdasarkan
kodrat, menyelaminya sesuai kodrat zamannya.
Berada
di zaman globalisasi, arus komunikasi maya semakin merajai keberadaan peserta
didik maka guru tetap harus menjadi pembelajar sehingga tak ketinggalan dengan
keunikan yang menggandengi peserta didik zaman sekarang. Saya sebagai guru harus mengubah pola pikir, paradima perubahan
mengikuti perkembangan dengan
beradapdasi zaman canggih sekarang ini.
Sebagai
guru, harus
memiliki kepiawaian dalam menuntun peserta didik yang memiliki keanekaragaman
karakteristik, mampu mengantar peserta didik untuk merajut masa depannya.
Gurupun
demikian, cahaya penerang bagi peserta didik. Guru jangan pernah hanya melepas
tanggung jawab mengajar. Ketika menemui hambatan, keluh kesah yang menjadi
tameng. Kesah dengan berbagai prilaku peserta didik. Tentu berdasarkan
keanekaragaman peserta didik, ada peserta didik yang sesuai keinginan guru, dan
ada pula yang tidak sesuai sehingga muncul istilah nakal, tidak sopan, malas,
tidak berkarakter, dan lain-lain.
Pada
kondisi tertentu, peserta didik kadang mengalami sesuatu diluar nalar, sehingga
guru kadang tidak menerima bahkan mensugesti anak tanpa melihat dan menyelami
sebab musabab dari tindak lakunya. Harusnya pada saat itu, guru menyadari semua
peserta didik memiliki keunikan, namun juga memiliki keterbatasan. Ada peserta
didik yang sangat patuh, taat bahkan pandangan guru dia peserta didik yang
terbaik. Patuh dan taat atas segala aturan serta semuakeinginan diwujudkan.
Namun ada juga peserta didik yang selalu
menjengkelkan sehingga guru muncul sugesti notabene anak yang nakal, malas,
tukang tidur, tidak sopan. Sebagai
guru harus memiliki
soslusi agar peserta didik lebih baik.
Sebagai
gur, saya tetap harus
bertoleransi menjadi penerang pada kondisi kabut yang dialami oleh peserta
didik, tidak menjastis sesuai keinginan. Sesungguhnya peserta didik yang
notabene nakal, tukang tidur, malas, tidak memperhatikan pelajaran, bias saja
menjadi anugerah bagi guru. Mari semua guru tidak pernah lelah penuh keikhlasan
dan ketulusan menuntun peserta didik menggali potensi menemukan solusi untuk
menjadi harapan bangsa. Terangilah langkah peserta didik dengan penuh
tanggungjawab dan kasih sayang. Segala kekerasan bila dihadirkan dalam
kelembutan dan dedikasi, yakinlah membawa dampak positif.
Tantangan
saya sebagai guru adalah berpikir positif dari kelemahan peserta
didik. Sangat sepele kedengaran, namun bisa saja berdampak buruk pada
perkembangan peserta didik bila terus menerus menghadapinya dengan kemarahan.
Sayapun harus
berperilaku baik dan menginspirasi bagi yang lain. memiliki perkataan yang baik
dan sopan, sikap dan perilaku yang positif, mental, dan moral dapat digugu dan
di tiru oleh peserta didik. Guru memiliki itikad baik, menjadi pembelajar
sepanjang hayat, memiliki kemampuan dan keterampilan yang dapat ditularkan pada
orang lain, punya motivasi untuk melakukan hal-hal yang menginspirasi. Guru
menjadi figu
0 Komentar