Kepergian Ayah

 

Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (QS. Al Ankabut: 57). Pesan Allah SWT dalam Al quran bahwa setiap yang bernyawa mengalami kematian. Karena itu wahai manusia berbuat baiklah, Laksanakanlah seluruh perintah Allah dan jauhi larangan-Nya.

 

Ayah adalah pria hebat yang menjadi panutan bagi keluarga, karena sikapnya yang tegas, hangat, pekerja keras dan penuh kasih sayang. Beliau pendiam, sabar. Ayah anak tunggal dari kedua orang tuanya.

Aku dan ayah tidak tinggal serumah, beliau di Palopo sementara aku di kabupaten Majene. Jarak lokasi sangat berjauhan, namun hampir setiap bulan kami sekeluarga berkunjung ke orang tua. Hal itu sudah merupakan rutinitas, apalagi bila ada liburan. Setiap saat ayah sakit, beliau tidak pernah mau di antar ke rumah sakit, selalu beralasan sakitnya hanya biasa. Tahun 2012 beliau sakit sampai harus berjalan dengan meraba. Aku waktu itu, memaksa ayahku harus ke rumah sakit namun juga tidak mau. Berbagai alasan waktu itu beliau setuju aku antar ke dokter prakek ahli mata,sampai di beri jadwal mata harus operasi. Ayah pasrah dan setuju untuk di operasi.

Alhamdulillah, setelah operasi mata ayah pulih dengan baik. Ayah kembali dengan seluruh aktivitasnya. Beliau tidak pernah mengeluh tentang apapun itu. Keuletan ayah menjadi motivasi bagi aku sebagai anak untuk selalu berusaha dan ulet dalam bekerja. Beliau bukan ulama, setiap subuh atau menjelang magrib selalu melantunkan ayat-ayat Allah, kami sekeluarga senang banget dengan suara merdunya.  Ayah juga sangat peduli dengan sesama keluarga.

Tahun 2020, ayah sudah mulai tidak seaktif yang lalu, kadang sakit karena hipertensi. Apabila tidak ada liburan biasanya ayah tiba-tiba datang ke rumah tanpa memberi kabar. Aku dan keluarga merasa sangat senang dengan kehadirannya di rantauan.

Tahun 2021 aku dan keluaraga hampir setiap bulan berkunjung ke orang tua, apalagi ayah dan ibu sudah tua. Ayah selalu sakit dengan hipertensinya. Tahun 2022 kami sudah melarang bepergian karena selalu kurang sehat. Setiap sakit kakak selalu membawanya ke dokter ahli di klinik. Pada bulan November 2022 ayah keluar masuk rumah sakit. Hampir setiap minggu aku berkunjung, aku dan keluarga tidak pernah merasa lelah dengan tempuh jarak 435 kilometer. Aku sedih ketika saat akan balik kerja lagi, beliau selalu berpesan jangan tinggalkan aktivitas karena itu muasal gaji menjadi darah daging di tubuh. Pertama kali ayah masuk rumah sakit langsung di vonis olehd dokter ayah mengidap penyakit kanker hati. Hari itu aku diajak dokter keruangannya lalu menyampaikan bahwa ayah sakit kanker hati. Mendengar itu rasanya hancur seluruh tubuh. Aku bertanya ke dokter, dok…apa yang harus saya lakukan, adakah jalan yang bisa aku tempuh untuk kesembuhan ayahku..Dokter menjawab, Ibu harus sabar dan tabah..di samping umur ortu sembilan puluhan…berikan saja apa yang ayah mau. Ya Allah …begitu berat sakit yang ayah derita, kenapa diagnosa dokter baru terungkap. Akhirnya kami kembali ke rumah, waktu itu aku meminta untuk rutin kontrol di klinik praktek tetapi dokter menyatakan tidak perlu ke klinik tetapi kontrol di rumah sakit toh ada BPJS orang tua.

Aku pndah dokter dengan harapan diagnosa berbeda tetapi hasilnya sama, ayah kanker hati stadium 5. Ya Allah…kuasaMu segalanya. Akhirnya minggu terakhir di bulan Desember 2023 …ayahku tidak berkenan lagi di bawa ke rumah sakit, beliau berkata… tidak perlu lagi ke rumah sakit, tidak akan sembuh nak. Tetapi kami semua tetap membawa ayah ke rumah sakit minimal pertolongn inpus untuk asupan makanan. Minggu pertama di bulan Januari akhirnya aku izin tidak masuk sekolah, ayah semakin parah, tidak mau lagi menelan makanan apapun, hanya minum satu dua teguk. Setiap hari setiap malam kami bergantian disamping ayah.

Malam Senin aku pamit untuk balik agar aku bisa masuk sekolah, sebab 4 hari sudah tidak mengajar. Ayah dan keluarga mengizinkan. Di tempat mengajar aku tidak tenang, selalu kepikiran tentang ayah. Setiap hari video call, minggu ke tiga di bulan januari niatnya izin hari Jumat kembali lagi ke kampung untuk bertemu ayah, tetapi malang tak bisa diuntung, Rabu malam 18 Januari 2023 dapat kabar dari kakak pertama bahwa ayah telah tiada. Di malam buta itu juga kami sekeluarga menuju Palopo.

Deringan telpon dari sanak keluarga anak ayah bersahutan. Ya..Tuhan ayah benar-benar pergi tanpa aku di sisinya. Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam, rasanya tak percaya secepat itu ayah pergi selama-lamanya.

Selamat jalan ayah, Allah lebih menyayangimu..semoga tenang di sana

 

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...