Kepergian Ayah

 

 

17 Februari 2024

Herlina

Kelas B

578 kata

 

Allah SWT telah menggariskan mengatur alam semesta ini beserta isinya. Termasuk juga takdir dan rezeki serta ujian seseorang yang dihadapinya. Dalam kehidupan manusia tidak  akan pernah luput dari cobaan-cobaan yang datang silih berganti. Tetapi percayalah bahwa Allah SWT membei cobaan kepada hambanya sesuai dengan kemampuan.

Seperti trejadi padaku, tahun 2011 selesai pendidikan S2, basalah..masih semangat-semangatnya menimbah ilmu. Waktu itu aku putuskan untuk melanjutkan studi jenjang S3 di Unhas. Suami juga mendukung niat baik itu. Seluruh perlengkapan administrasi telah selesai dan siap kuliah. Seluruh fasilitas yang akan di gunakan selama perkuliahan telah di siapkan. Terbayang kesibukan nantinya.

Tiga bulan kemudian tiba-tiba di subuh hari, Kamis berdering telpon dari ponakan menyampaikan bahwa neneknya (Ibuku) tiba-tiba sakit, sebagian tubuhnya tiba-tiba lemas tidak berasa. Ibuku langsung di larikan ke rumah sakit.

Lunglai rasanya mendengar kabar, saat itu juga aku bergegas menuju sekolah untuk izin ke kampung. Sebelum berangkat, aku meminta tolong kepada rekan guru untuk mengisi jadwal di kelas agar tidak kosong. Seperti inilah gumanku..bila kita jauh dengan orang tua. 

Ibu adalah sosok yang menginspirasi, beliau guru gaji bagi anak-anak di lingkungan pada waktu itu. Beliau sangat sederhana, sabar, penyayang, tekun

Aku anak ke empat dari lima bersaudara, saudara semua laki-laki, yang tinggal serumah dengan orang tua adalah adik yang bungsu. Beliaulah yang membawa ibuku ke rumah sakit.

Aku bersama keluarga langsung menujurumah sakit Rampoang, di mana ibu di rawat. Lepas magrib tiba di rumah sakit. Pagi hari aku menemui dokter yang merawat ibu.

Ibuku mengalami stroke bagian kanan, sedih mengetahui itu. Selama di rawat aku bersama kakak pertama yang menjaganya.

Selama di rawat di rumah sakit, aku bersama suami bolak-balik Majene-Palopo yang jarak tempuh kurang lebih 9 jam. Waktu itu aku meminta waktu jam mengajar full selama 3 hari senin 8 JP, selasa 8 JP dan sabtu 8 JP. Anak-anakku sekolah juga mengikuti hari, mereka terpaksa banyak izin di sekolahnya

Tidak terasa jadwal perkuliahan tiba. Bingung juga harus gemana, tidak mungkin tinggalkan ibuku yang terbaring di rumah sakit. Aku shalat malam memohon petunjuk dari Allah. Aku diskusikan dengan suami akhirnya kuputuskan mengundurkan diri dari perkuliahan

Aku fokus pada perawatan ibu, yang menurut dokter insyaallah bisa sembuh bila perawtannya terjaga dengan baik. Selama sebulan kami di rumah sakit, setiap pagi terapi seluruh tubuhnya.

Tiba waktunya ibu kembali ke rumah. Seluruh yang di konsumsi harus seimbang gizi. Semua anjuran dokter dilakukan secara konsisten. Alhamdulillah  dalam waktu 4 bulan Ibu pulih kembali, walaupun masih sedikit tak berasa tangan kanannya. Setiap 2 minggu kami lakukan terapi ke klinik praktek, rutin terjaga.

Berkat kesabaran dan ketabahan Ibu, dengan perawatan yang baik, Ibu dengan sabar menerima apa yang kami lakukan pulih kembali dan bisa beraktivitas seperti hari sebelum stroke.

Syukur alhamdulillah, benar-benar rahasia Allah tak ada satu manusia pun yang bisa mengetahuinya. Allah selalu menghenadki kemudahan bagi hambanya. Memberikan kebaikan dan rahmatNya kepada ummatnya yang bersabar, memberikan kemudahan dan meringankannya sesuai kemampuan.

Aku benar-benar menyadari bahwa Allah Maha Segalanya, maha Mengetahui kemampuan hamba. Allah tidak pernah menuntut kepada manusia untuk melakukan sesuatu yang tidak disanggupi.

Kita sebagai hamba Allah kerjakanlah kebajikan dan jauhilah larangan-Nya. Berserah dirilah padaNya setelah melakukan upaya saat terbentur segala hal. Allah memberikan jalan sesuai amal buruk seseorang. Jagalah ketaqwaan kepada Allah niscaya kebaikan membersai kita.Percayalah pada janji Allah dalam surah Al Insyirah ayat 5-6.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS Al-Insyirah 5-6) semoga ya Allah.

Banyaklah beersyukur, insyaallah segala doa yang kita lantunkan akan diijabah olehNya.Aamiin ya Rabbal Alamin.

 

 

 

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...