GERAI PELATIHAN KARYA TULIS ILMIAH KIR SMA NEGERI 1 MAJENE

 


Tantangan abad 21 khususnya bagi peserta didik dituntut untuk lebih kreatif, komunikatif, kolaboratif dan mampu berpikir kritis. Di harapkan mampu mengikuti dan mengimbangi arus globalisasi dunia. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi peserta didik. Perkembangan IPTEK menuntut pada peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing dengan lainnya. Peningkatan kualitas dan mutu sumber daya manusia dapat tidak dapat dilakukan secara instan, tapi harus dapat diperoleh dari proses belajar yang berkesinambungan dan berkelanjutan.

Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMA Negeri 1 Majene salah satu ekstrakurikuler sebagai wadah pengembangan bakat dan minat peserta didik dalam hal membangun dan menumbuhkan semangat mengembangkan wawasan, proses pembentukan karakter bagi peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan KIR SMA Negeri 1 Majene ini Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (PKTI) selama 3 hari sejak tanggal 24 s.d 26 September 2021 dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut peserta didik memperoleh pencerahan dari beberapa pemateri. Hari pertama dibuka secara resmi oleh kepala SMA Negeri 1 Majene bapak Muliadi S., S.Pd., M.Pd. yang dihadiri oleh wakasek Kesiswaan,wakasek Akademik, Pembina OSIS, Pembina KIR, Ketua Osis beserta ketua organisasi naungan OSIS, peserta Mahasiswa asistensi, dan pengurus serta anggota KIR SMA Negeri 1 Majene.


Dalam kegiatan tersebut materi hari pertyama yakni Motivasi Menulis yang dibawakan oleh Kepala Sekolah bapak Muliadi S, S.Pd., M.Pd. 







Hari Kedua Metodologi Penelitian oleh Herlina, S.Pd., M.Pd, 







Penyusunan Instrumen Penelitian oleh Abdul Masli (penulis buku),




 dan Penyusunan Proposan dan Laporan Penelitian oleh Awaliyah Aini  Khalbiyah Salam, S.Pd yang juga selaku Pembina KIR SMA Negeri 1 Majene.

 






0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...