VISI GURU PENGGERAK
By
Herlina,S.Pd., M.Pd.
CGP
Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat
Refleksi model 5R
terdiri atas responding, responding, relating, reasoning, dan reconstructing.
Kegiatan minggu ini diawali dengan elaborasi pemahaman nilai-nilai dan peran
guru penggerak. Awalnya di pandu oleh Urdik Hardianto, lalu Ibu Musyarofah
sebagai fasilitator menyapa dengan ramah. Instruktur yang memaparkan pemahaman
adalah Simon Petrus Rafael.
Responting
Pada kegiatan
elaborasi pemahaman tersebut, memberikan penguatan tentang nilai-nilai dan
peran guru penggerak dalam penumbuhan profil pelajar pancasila pada murid.
Kegiatan berikutnya mengawali pembelajaran pada modul 1.3 tentang visi guru
penggerak. Pembelajaran pertama di Mulai dari Diri dengan melalui membaca modul
dan mengamati video. Selanjutnya ekplorasi konsep dan saling berkomentar antara
CGP yang lain tentang visi guru penggerak.
Setelah melakukan elaborasi pemahaman dengan instruktur, secara
sadar menguatkan profil pelajar pancasila,nilai dan peran guru dalam
menumbuhkan profil pelajar pancasila pada muridnya. Keteladanan, proses diri
untuk bergerak, tergerak dan menggerakkan, kerja otak dan emosi. Pembiasaan
dilakukan secara konsisten dan sistemik untuk mencapai tujuan dan harapan yang
diimpikan sesuai dalam mengambil keputusan bermakna. Lebih memahami arah dan
tujuan guru penggerak, kolaborasi sesama teman sejawat dan semakin luas
pemahaman.
Responding
Pada modul 1.3 tentang visi guru penggerak yang bergerak,
tergerak, dan menggerakkan dengan mulai dari diri, memahami murid impian dengan
merumuskan visi sesuai hapan yang diinginkan. Dalam usaha mewujudkan visi guru
penggerak maka salah satu usaha ideal yang dilakukan dengan pendekatan
perubahan positif. Menjadikan sekolah sebagai rumah yaang aman, nyaman, dan
bermakna bagi murid. Reformasi budaya sekolah yang positif dan konstruktif
dilakukan dengan bertahap. Guru penggeraklah yang harus menggali potensi setiap
anak sesuai kodratnya sesuai visi Ki Hajar Dewantara. Paradigma perubahan yang
digunakan adalah pendekatan Inkuiri Afresiatf dan BAGJA
Paradigma perubahan yang digunakan adalah pendekatan Inkuiri
Afresiatf dan BAGJA, sebagai pengantar guru dalam mewujudkan murid merdeka.
Pendekatan paradigma Inkuiri Apresiatif ini merupakan pendekatan manajemen
perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Oleh karena itu guru
penggerak hendaknya terus memotivasi diri sambil mengupayakan menggerakkan orang
lain.
Relating
Menghubungkan atara kaitan peristiwa dengan pengetahuan, keterampilan,
keyakinan atau informasi lain yang dimiliki.
Dalam elaborasi pemahaman semakin sadar tentang nilai dan peran
guru penggerak, bergerak, tergerak dan menggerakkan sebuah cita harapan yang
diinginkan. Dengan memahami nilai dan peran guru penggerak semakin
menginspirasi untuk meciptakan sebuah visi yang menggambarkan murid yang
diimpikan. Murid impian di eksplorasi dengan keteladanan perilaku-perilaku
positif Sebuah sekolah harus mempunyai tujuan yang mampu memberi kenyaman dan
keamanan oleh semua pihak. Dengan visi yang ada membuat kita memacu diri
untuk melakukan peningkatan kualitas diri serta menguatkan kolaborasi di
lingkungan sekolah sehingga menjadi upaya perbaikan yang berkesinambungan.
Keterkaitan
nilai dan peran guru penggerak dengan visinya sangat erat. Karena dalam melakukan
perubahan budaya positif tentu memiliki keteladan dan pembiasaan guru dalam
paradigma perubahan positif. Untuk melakukannya diperlukan orang-orang yang
bersedia untuk terus melakukan inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang
sedang dihadapi pada masa kini dan yang akan datang. Keyakinan saya sangat
jelas dengan niat yang tulus dan ikhlas demi mewujudkan visi sekolah mewujudkan
murid yang unggul, peduli lingkungan dan teguh berbudaya. Namun hal tersebut tak semudah yang dibayangkan. Semua
yang direncanakan tetap akan dilaksanakan secara bertahap.
Lain halnya dengan materi baru yang saya dapatkan yakni mengelola
suatu perubahan positif di sekolah tentu kita membutuhkan sebuah manajemen
perubahan. Tahapan BAGJA yang menggunakan
paradigma inkuiri apresiatif, relevan dengan mewujudkan murid merdeka yakni
dapat menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Menggali potensi diri
murid, bakat dan minat, cara belajar sesuai dengan kodrat zaman yang sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Menciptakan
suasana kelas yang menyenagkan, dan bermakna, serta dapat menumbuhkan motivasi
intrinsik murid.
Reasoning
Menganalisis
dengan detail mengapa peristiwa tersebut terjadi,lalu mengangambil perspektif
lain misalnya dari teori atau kejadian lain yang serupauntuk mendukung analisis
tersebut. Untuk reformasi budaya sekolah membutuhkan pendekatan atau paradigm
untuk melakukan perubahan positif. Pendekatan kolaboratif dalam melakukan
perubahan yang berbasis kekuatan. Inkuiri apresiatif menggunakan prinsip
psikologi positif dan prinsip pendidikan positif. Inkuiri apresiatif adalah
sebuah pendekatan kolaboratif untuk mengetahui kondisi suatu organisasi atau
komunitas dalam mengembangkan perilaku suatu organisasi melalui pengajuan
pertanyaan yang tersusun dalam tahapan BAGJA dan dijalankan dalam suasana yang
positif dan apresiatif. Lima tahapan utama yang dijalankan dalam akronim BAGJA
tersebut adalah: Buat pertanyaan utama sebagai penentu arah penelurusan
terkait perubahan yang kita inginkan. Bagaimana meningkatkan pencapaian
murid disemua pencapaian perkembangan dengan keberagaman yang ada di sekolah,
membiasakan menerima keberagaman murid di lingkungan sekolah dan meningkatkan
keterlibatan murid dengan cara dan ragam yang berbeda? Ambil pelajaran
ini, dilakukan setelah pertanyaan utama disepakati. Mengakomodasi semua
murid sesuai dengan kebutuhannya, mengambil pelajaran dari pengalaman dari
berbagai pihak. Gali mimpi bersama Membuka kesempatan bagi semua
pihak untuk berkolaborasi lebih aktif baik dari lembaga sekolah, orang tua dan
masyarakat serta lingkungan sekolah menjadi lebih demokratis. Menyusun narasi tentang harapan yang
diinginkan. Menstimulasi perkembangan dan menanamkan nilai karakter pada anak. Jabarkan
rencana untuk mencapai gambaran yang diinginkan. Merumuskan tindakan
yang akan dilakukan untuk menciptakan hal keragaman yang ada. Atur
EksekusiSetelah menyusun rencana perubahan, dengan memahami kekuatan
yang ada di sekolah, sebagai dasar untuk melakukan perubahan positif. Dalam
reasoning ini kemungkinan yang akan terjadi pelaksanaan yang tidak dapat
berjalan lancer karena masih dalam suasana pandemic covid-19 dan manajemen
waktu.
Reconstructing
Menuliskan rencana alternative jika
menghadapi kejadian serupa di masa yang akan datang.
Setelah
melihat kenyataan dalam pandemik yang semuanya dilakukan terbatas, dapat memicu
pelaksanaan rancangan kurang terlaksana dengan baik. Namun saya akan berusaha
melakukan hal terbaik dengan berkolaborasi dengan semua warga sekolah, membuat
skala prioritas antara kegiatan dan pekerjaan sekolah dengan yang lain.
Berusaha
untuk selalu bahagia, antusias dan semakin termotivasi untuk melakukan hal-hal
positif. Secara perlahan mengimplementasikan nilai dan peran serta mewujudkan
visi guru penggerak dengan bergerak, tergerak dan menggerakkan dalam
pembelajaran berpihak pada murid, memberi ruang bebas berekspresi sehingga
dapat mewujudkan murid impian yang mencerminkan profil pelajar pancasila.
Dengan
demikian ketika kita konsisten melakukan perubahan positif, perlahan namun
pasti melalui pendekatan Inkuiri Apresiatif dan merealisasikan tahapan BAGJA.
Perkuat komunikasi dan kolaborasi dengan semua unsur dalam ekosistem sekolah
dengan waktu dan keterlibatan pihak lain sangat menentukan ketercapaian tujuan
yang sudah direncanakan.
Semoga Bermanfaat
Salam dan Bahagia
Terima Kasih
0 Komentar