Aksi Nyata 1.4.a.10 BUDAYA POSITIF

AKSIKU BERGOTONG ROYONG




A. Latar Belakang

Pepatah mengatakan, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Makna tradisi gotong royong seperti pepatah ini sudah usang di zaman yang makin sibuk dan makin individualis. Karena itu perlu dibangun budaya positif. Budaya positif yang dibangun sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Salah satu cerminan dalam profil pelajar pancasila adalah bergotong royong. Elemen utama bergotong royong adalah kolaborasi, peduli dan berbagi. Murid dengan profil ini diharapkan memiliki kemampuan berkolaborasi yang merupakan softskill utama yang terpenting di masa depan agar bisa bekerja secara tim.

Kepedulian dalam hal ini peduli lingkungan melalui program LISA dan kepedulian terhadap sesama dengan gerakan jumat berkah. Nilai-nilai bergotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat berkolaborasi, menjalin komunikasi, dan saling menolong bagi yang membutuhkan. Murid diharapkan mampu mengaktualisasi diri dan mengimplementasikannya dalam kehidupan, sehingga apa yang mereka lakukan dapat dirasakan manfaatnya baik untuk diri sendiri maupun lingkungan.

B. Tujuan

Tujuan kegiatan aksi ini adalah mewujudkan budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid untuk mencapai visi murid impian yakni murid yang unggul, peduli lingkungan, dan teguh berbudaya.

  1. Menumbuhkan kolaborasi yang baik
  2. Menumbuhkan kepedulian terhadap sesama dengan aksi Jumat Berkah
  3. Menumbuhkan kebiasaan peduli lingkungan dengan aksi LISA (Lihat Sampa Ambil)
  4. Menumbuhkan aksi berbagi pada yang membutuhkan

C. Tolak Ukur

 

  1. Memiliki semangat belajar
  2. Membangun semangat berkolaborasi
  3. Berkomitmen melaksanakan kesepakatan
  4. Kepedulian tinggi
  5. Mudah berbagi pada yang membutuhkan

D. Liminasi Tindakan

  1. Berkoordinasi dengan kepala sekolah tentang rencana program
  2. Sosialisasi program kepada warga sekolah
  3. Berdiskusi dengan murid untuk menghasilkan kesepakatan kelas/keyakinan kelas
   
Deskripsi Aksi Nyata

Aksi ini diawali dengan berkordinasi kepala sekolah tentang rencana kegiatan, kemudian melakukan sosialisasi program kepada warga sekolah. Selanjutnya berdiskusi dengan murid untuk menghasilkan kesepakatan kelas dan pelaksanaan progran jumat berkah.. Untuk memperlancar gerakan dengan berkolaborasi seluruh wali kelas dalam hal keyakinan -keyakinan nilai budaya positif, termasuk aksi bergotong royong dalam berkolaborasi, melaksanakan jumat berkah dan berbagi. Upaya penerapan budaya positif di sekolah baik secara daring dan luring, sebagai berikut:

  1. sosialisasi dengan warga sekolah secara luring pada hari Jumat 22 Oktober 2021 dengan materi Restitusi.
  2. Berdiskusi dengan murid kelas yang saya ajar dan beberapa pengurus organisasi kegiatan ekstrakurikuler tanggal 13, 14, 15, 18, 19 Oktober 2021
  3. Sharing secara daring bersama wali kelas dengan materi Keyakinan Kelas pada hari Kamis 4 November 2021

Aksi pertama yang dilakukan adalah berkoordinasi dengan Kepala Sekolah tentang pelaksanaan program calon guru penggerak. Kepala sekolah sangat merespon dengan gerakan aksi nyata tersebut, dengan harapan membawa angin segar bagi penumbuhan karakter positif di sekolah. Cerminan profil pelajar pancasila menjadi tolak penguatan menciptakan budaya positif meliputi berakhlak mulia, bberkebhinekaan global, bergotong royong, keratif, berpikir kritis, dan mandiri. Pada koordinasi tersebut kepala sekolah menyetujui melaksanakan fokus pada salah satu profil yakni bergotong royong dengan elemen berkolaborasi (bekerja sama), peduli dan berbagi.

Dokumentasi: pribadi


Upaya penerapan budaya positif  di sekolah lebih awal dilakukan adalah sosialisasi tentang  perlungya membangun budaya yang positif dengan beberapa pemahaman seperti perubahan paradigma, konsep disiplin positif dan motivasi, keyakinan kelas, kebutuhan dasar manusia, posisi kontrol, dan segitiga restitusi. Sosialisasi secara luring ini dilaksanakan sebagai wadah berbagi menyamakan pemaman tentang budaya positif. Alur berpikir kita sama tentang penenaman disiplin yant tentunya sangat berpengaruh dengan kontrol guru dalam menghadapi murid. Pengetahuan dan pengalaman memahami budaya positif agar semua warga dapat berkolaborasi menyediakan lingkungan yang positif, aman, sehat, dan nyaman agar mampu berpikir, bertindak, dan mencipta merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Disiplin positif merupakan unsur utama dalam terwujudnya budaya positif yang tentu sangat dicita-citakan di sekolah. 
Selama ini kita semua berpandangan bahwa displin sangat berhubungan dengan tata tertib, teratur dan kepatuhan pada peraturan, serta hukuman, padahal berbeda. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa menciptakan murid yang merdeka syarat utamanya harus ada disiplin yang kuat, seperti disiplin diri yang memiliki motivasi internal. Disiplin diri membuat seseorang menggali potensinya menuju sebuah tujuan, tentang sesuatu yang dihargai dan bermakna, dengan tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang dihargai. 
Salah satu perilaku yang penting kita terapkan di sekolah adalah menetukan terciptanya lingkungan positif, lingkup kecil sebagai langkah yakni kesapakatan tentang keyakinan kelas di atara warga kelas. Murid akan terbiasa dengan keyakinan kelas yang mereka tentukan sendiri. Mereka akan tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya daripada sekedar mengikuti rangkaian peraturan. Lalu ketika terjadi pelanggaran maka restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif  sebagai bagian budaya positif sekolah. Menerapkan restitusi dalam membimbing murid berdisiplin positif agar nantinya murid menjadi merdeka. Restitusi adalah sebuah tindakan atau proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka memahami kesalahan dari tindakan yang dilakukan. Restitusi bagi murid lebih memiliki tujuan, disiplindan pemulihan dari tindakan kesalahan yan dibuat. Bukan memarahi atau menghindarkan dari ketidaknyamanan namun guru menunjukkan nilai-nilai atau dampaknya. Restitusi bertujuan menjadikan seseorang yang menyadari, menghargai nilai-nilai kebajikan yang dipercayai. Guru menanggapi dengan cara memungkinkan murid membuat evaluasi diri agar menyadari dan memperbaiki kesalahannya sendiri.

Video Sosialisasi secara Luring

 


Dokumentasi: pribadi

Sharing secara daing bersama wali kelas tentang keyakinan kelas. Betapa penting memiliki keyakinan kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah kelas, sebagai landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan yang kemungkinan bisa terjadi dalam kelas atau sekolah. Perilaku warga kelas akan menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya membentuk budaya positif.
Dokumentasi: pribadi
Murid adalah aset sasaran utama dalam menciptakan kondisi sekolah yang diimpikan. Karena itu guru harus menuntun, mejadi teladan membangun semangat, dan mendorong semangat para murid di sekolah. Membangun kolaborasi bersama murid itu sangat penting dalam menanamkan dan menumbuhkan budaya positif. Usaha yang dilakukan sekolah perlu penyatuan pemikiran untuk mendapatkan nilai-nilai kebajikan dari keyakinan-keyakinan yang disepakati oleh murid. 
Berdiskusi dengan murid tentang keyakinan kelas, mereka sangat merespon, demikian pula tentang prorgam aksi dari bergotong royong dengan gerakan Jumat berkah.
Dokumentasi: pribadi

Dokumentasi: pribadi
Program LISA juga merupakan salah satu wujud dari kepedulian warga sekolah untuk menumbuhkan cinda lingkungan. Salah satu cara membangun budaya positif di sekolah adalah menyediakan lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan nyaman. 
Dokumentasi: pribadi
Kepedulian merupakan kunci utama dalam menjalin hubungan antar manusia baik dalam lingkup sekolah maupun lingkup luar sekolah. Salah satu cara menumbuhkan kepedulian warga sekolah dan menanamkan kepedulian itu pada murid yakni mengajak mereka untuk melakukan hal-hal positif. Menumbuhkan kepedulian mereka dengan menyisihkan uang dalam gerakan Jumat Berkah yang dilaksanakan sekali seminggu yakni pada hari Jumat. Tidak ada unsur penekanan dalam kegiatan tersebut. 
Dokumentasi: pribadi

Dokumentasi: pribadi

Hasil Aksi Nyata

Melaksanakan progran Aksiku Bergotong Royong di SMA Negeri 1 Majene memiliki dampak positif. Berdasarkan aanalisis secara kualitatif kegiatan tersebut berjalan lancar. Semua warga merespon aksi bergotong royong dengan penerapan kolaborasi, kepedulian lingkungan program LISA dan gerakan jumat berkah setiap minggunya serta berbagi. Murid mewujudkan sikap bergotong royong berkolaborasi, peduli dan berbagi. Murid menumbuhkan cinta lingkungan dengan kelas bersih. Dan murid pun sangat merespon dan antusias dengan bergiliran setiap kelas aktif melaksanakan gerakan jumat berkah dengan berkeliling ke seluruh kelas (21 kelas) dan hasilnya

 Keberhasilan dan Kegagalan Program

Keberhasilan

Pelaksanaan program ini terlaksana sesuai dengan perencanaan, sebagian besar murid merespon dan berpartisipasi aktif dengan progran menumbuhkan budaya positif baik dalam hal lihat sampah ambil dan gerakan jumat berkah serta berbagi. Program LISA perlahan-lahan terealisasi mulai dari kelas dan di luar kelas. Gerakan Jumat berkah berjalan dengan baik dan lancar sesuai perencanaan dengan jadwal setiap minggu berjalan bergiliran kelas yang bertugas.

Kegagalan

Pelaksanaan program ini masih ada murid dan warga lainnya yang belum melaksanakan progran. Ada beberapa guru yang belum merespon baik jumat berkah dan kurang peduli dengan program LISA .

Rencana Tindak Lanjut

Tindak lanjut yang akan dilakukan adalah:

  1. Memotivasi warga sekolah dalam meningkatkan kesadaran berbudaya positif
  2. Memotivasi murid menumbuhkan budaya positif fokus pada sikap bergotong royong
  3. Menerapkan budaya bergotong royong dengan elemen kolaborasi, peduli dan berbagi secara kontinyu
  4. Melakukan evaluasi secara rutin untuk keberlangsungan program. 

"Sekecil apapun aksi yang kita lakukan jauh lebih baik daripada sekedar keinginan yang besar tetapi tidak melaksanakannya, teruslah bergerak"

Bersyukur Selalu
Salam dan Bahagia
Terima Kasih

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...