REFLEKSI TERBIMBING -Pembelajaran Sosial dan Emosional

  

Kita tidak belajar dari pengalaman, tetapi kita belajar dari refleksi terhadap pengalaman kita

John Dewey (Philosopher, Psychologist)


 1. Tiga hal menarik yang saya pelajari adalah

        1. Keterampilan Sosial emosional meliputi: kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, kemampuan berinteraksi sosial, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Hal tersebut sangat bermanfaat dimiliki oleh seorang guru dan murid. Guru dan murid adalah pembelajar sepanjang hayat yang terus belajar untuk meningkatkan kompetensi diinternalisasikan dengan lingkup KSE.

         2. Cara penerapan sosial dan emosional meliputi: mengajarkan Keterampilan sosial emosional secara spesifik dan eksplisit, mengintegrasikan KSE dalam praktik mengajar dan gaya interaksi dengan murid, mengubah kebijakan dan ekspekstasi sekolah kepada murid, mempengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri, orang lain, dan lingkungan.

         3. Konsep kesadaran penuh (mindfulness) dan well being bahwa seorang guru berperilaku positif, mengatur dan mengelola lingkungan dengan baik dan memiliki tujuan hidup dan bermakna dan mengeksplorasi diri.


2. Dua hal penting yang saya pelajari adalah:

        1. Pemahaman konsep kesadaran penuh, hubungan kesadaran penuh dengan 5 kompetensi             sosial dan emosional serta penerapan di kelas. Lima kompetensi tersebut (perhatikan                     gambar berikut:



        2. Kesadaran penuh (mindfulness) memberikan pemahaman dalam mengenali diri,                            mengelola diri secara emosional. Kesadaran tersebut sebaiknya dilakukan setiap hari dan             berusaha meciptakan kontrol diri dalam berperilaku.

 

 3.Satu hal yang ingin saya terapkan dalam kelas adalah melakukan pembelajaran dengan                 pendekatan sosial emosional dengan strategi pembelajaran berdiferensiasi. Hal tersebut             sebagai usaha untuk meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan dalam menuntun murid      mengeksplorasi diri dengan menerapkan keterampilan sosial emosional  baik segi akademik         ataupun non akademik.

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...