JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 10
Herlina, S.Pd., M.Pd.
CGP Kabupaten Majene
Anggatan 3
“Belajar tanpa refleksi adalah sis-sia,
Refleksi tanpa belajar itu berbahaya” (Confucius)
Refleksi ke 10 ini menggunakan model Model 2:
Description, Examination and Articulation of Learning (DEAL). Model ini
dikembangkan oleh Ash dan Clayton (2009). Untuk membuat refleksi model ini,
tulislah penjabaran dari pertanyaan panduan berikut: Description: Deskripsikan
pengalaman yang dialami dengan menceritakan unsur 5W1H (apa, siapa, di mana,
kapan, mengapa, bagaimana), Examination: Analisis pengalaman tersebut
dengan membandingkannya terhadap tujuan/rencana yang telah dibuat
sebelumnya, Articulation of Learning: Jelaskan hal yang dipelajari dan
rencana untuk perbaikan di masa mendatang.
Description
Kegiatan pada
minggu ini adalah melanjutkan pembelajaran modul 2, yakni merefleksi
pembelajaran bahwa seorang guru tidak semata memberi ilmu melainkan menuntun
murid lebih mengenal bakat dan kemampuannya. Oleh karena itu, untuk menciptakan
pembelajaran yang efektif dan berpusat pada murid, seorang guru harus memahami
strategi pembelajaran berdiferensiasi dan lingkungan belajar yang mendukung
terciptanya pembelajaran yang sesuai kebutuhan belajar murid. Setelah pemetaan
kebutuhan belajar, lalu saya menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
berdiferensiasi meliputi diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan
diferensiasi produk melalui demonstrasi kontekstual. Kemudia pada saat
elaborasi pemahaman, instruktur memberi penguatan tentang pembelajaran
berdiferensiasi. Selanjutnya dalam lokakarya 3 para pengajar praktik memberikan
kesempatan kepada peserta dalam merancang visi, misi dan program sekolah
bersama kepala sekolah.
Examination:
Dari kegiatan
Demonstrasi konteksional dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran
mendapatkan pengalaman belajar bahwa RPP berdiferensiasi bukanlah RPP jenis
yang baru namun yang membedakan hanyalah proses pembuatannya yang diawalnya
harus dilakukan pemetaan kebutuhan belajar seperti kesiapan belajar, minat, dan
profil belajar murid. Skenario dalam RPP mendeskripsikan bagaimana cara
pemenuhan kebutuhan belajar tersebut, pencapaian tujuan pembelajaran melalui
asesmen dan cara mengukur keterpencapaian tujuan melalui proses pembelajaran.
Praktik pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada asesmen. Asesmen
formatif memungkinkan guru dapat mengenal dan memahami murid mereka lebih baik
dan, dan oleh karena itu, membuat keputusan terbaik untuk menantang dengan
tepat dan melibatkan mereka dalam pembelajaran. Saya semakin memahami dan
menyadari kekurangan pembelajaran sebelum belajar pembelajaran berdiferensiasi
tersebut.
Articulation of
Learning:
Pembelajaran
dalam modul 2 ini, seorang guru diharapkan untuk mengimplementasikan
pembelajaran yang berdiferensiasi yang berorientasi memenuhi kebutuhan belajar
murid. Seorang guru harus mampu mempertimbangkan strategi mendiferensiasi
seperti diferensiasi konten harus merujuk pada strategi pengorganisasian dan
penyampaian konten, meliputi materi pengetahuan, konsep, dan keterampilan yang
dipelajari murid berdasarkan kurikulum. Pada diferensiasi proses diharapkan
murid berlatih dan memahami isi, dan diferensiasi produk, guru membedakan
produk yang akan dihasilkan oleh murid dari proses yang dilakukan. Guru
pun harus menetapkan lebih awal tujuan pembelajaran yang jelas, memperhatikan
dan merespon kebutuhan belajar murid, keterlibatan murid dalam proses
pembelajaran, dan menyampaikan perencaan yang dibuat oleh guru kepada murid.
Dan memperhatikan pula model pembelajaran yang digunakan sebagai pendukung
dalam pembelajaran berdiferensiasi. Dengan demikian menjadi teladan dalam
melakukan praktik refleksi bagi pembelajaran di sekolah. Reflektif ini
semakin membuat saya memahami dan menyadari kekurangan pembelajaran sebelum
belajar pembelajaran berdiferensiasi tersebut. Awalnya masih ragu dengan
kekurangan yang lalu namun dengan penguatan dari instruktur dalam elaborasi
pemahaman semakin menguatkan pemahaman dan termotivasi untuk melakukan
pembelajaran berdiferensiasi tersebut dengan optimis, walaupun kelas yang saya
hadapi dengan murid yang jumlahnya banyak.
Demikian pula pada kegiatan lokakarya 3 kolaborasi dengan kepala sekolah
tercipta dalam penyusunan rancangan visi, misi, dan program sekolah serta
menghasilkan rancangan aksi nyata pelaksanaan program jangka pendek. Rancangan
pembelajaran berpusat pada murid melalui pembelajaran di kelas maupun di luar
kelas.
Terima Kasih
Salam dan
Bahagia
0 Komentar