Pendidikan secara holistis merupakan proses pembentukan manusia menjadi insan yang berkembang secara baik meliputi olah rasio, olah rasa, olah jiwa, dan olah raga melalui proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik yang dilaksanakan dengan suasana keterbukaan, kebebasan, dan yang menyenangkan.
Tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat (Rafael, 2020:22) . Oleh karena itu seorang pendidik tidak hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak agar dapat memperbaiki laku hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak melainkan tetap memperhatikan kodrat zamannya dalam pengembangan kodrat alam anak bersangkutan. Dengan kata lain bahwa seorang anak diharapkan mampu tumbuh dengan baik di zaman milenial tetapi tetap kebudayaan tumbuh dalam dirinya.
Tujuan tersebut mengisyaratkan bahwa titik nadi pendidikan berada pada keseimbangan mengajar, mendidik dan harus adanya keteladanan, agar menghasilkan manusia yang beradab dengan kesimbangan intelektual, sosial, spiritual, dan moralitas. Alat ukur secara holistis yakni sikap atau akhlak, pengetahuan, dan keterampilan. Seorang pendidik harus memahami dan menyadari bahwa semua peserta didik memiliki akhlak yang mulia, terpuji, baik moral dan mental berinteraksi dengan Komunitas. Peserta didik mempunyai pengetahuan untuk kemajuan dirinya dan perkembangan alam rayanya. Serta semua peserta didik memiliki kemapuan soft skill dan hard skill untuk menaklukkan zamannya. Oleh karena itu tuntunlah peserta didik dalam ruang yang berkualitas dan berkarakter.
Pembelajaran yang diharapkan adalah:
- memerdekakan dan berpusat pada anak
Semua yang dilakukan dalam dunia pendidikan harus berorientasi dengan anak, bebas dari segala ikatan.
- Pembelajaran yang fokus pada proses bukan pada hasil
- Mengikuti perkembangan zaman
- Tidak bertentangan nilai kemanusiaan
- Penumbuhan dan penguatan budi pekerti
Filosofi Ki Hajar Dewantara menitik beratkan pada perubahan, terutama perubahan budi pekerti menjadi lebih baik, sehingga tertanam dan tumbuh benih-benih yang mencerminkan nilai-nilai kebenaran, kemanusiaan, percaya diri, sehingga menjadi pribadi yang bijaksana.
Budi pekerti merupakan perpaduan harmonis antara pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga atau semangat. Hal tersebut sangat penting diperhatikan, karena sebagai modal dasar kebahagiaan yang berperikemanusiaan, kunci mencapai keselarasan dan kesimbangan hidup yang harmoni.
Pemahaman tentang semboyan KI Hajar Dewantara adalah Ing ngrasa sung tulada di depan menjadi teladan, bahwa seorang guru adalah pendidik yang harus memberi contoh atau menjadi panutan. Ing madya mangun karsa, di tengah membangun sebangat, artinya seorang guru adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus-menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya. Dan Tut wuri handayani dibelakang memberi dorongan. Hal tersebut bermakna bahwa seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus menuntun, menopang, dan menunjuk arah yang benar bagi hidup dan anak-anak didiknya. Seorang pendidik selalu mendukung dan menopang para peserta didiknya dalam berkarya ke arah yang lebih benar bagi hidup masyarakat.
Guru diibaratkan seorang pengasuh (fasilitator) yang mempunyai peran mengasuh, membimbing sang anak dengan ikhlas sesuai bakat dan minat peserta didik. Oleh karena itu, guru hendaknya mencermati garis kodrat kemampuan peserta didik agar jiwanya merdeka lahir dan batin. Peserta didik mempuyai kodrat dan keunikan masing-masing. Guru mempunyai tugas mulia menuntun kodrat anak tersebut. Melalui pendidikan, guru akan menuntun anak yang sudah mempunyai kodrat baik akan menjadi lebih baik lagi.
Menuntun dalam mengembangkan
kecerdasan peserta didik kita bahwa mereka memiliki rasa ingin tahu yang
tinggi. Sebagai pendidik, berilah stimulus agar cakrawala berpikir mempunyai
kebiasaan ingin mengetahui tentang banyak hal. Tuntun peserta didik kita
berpikiran terbuka, agar nantinya mereka siap dengan pendapat yang berbeda, dan
memahami bahwa segala sesuatu tidak semua berjalan lancar sesuai harapan, namun
kadang kala menghadapi tantangan.
Peserta didik perlu juga memupuk rasa empati agar
dalam berinteraksi dengan orang lain, selalu menjaga dan mengelola emosi. Peserta
didik dapat mengendalikan diri dengan baik dan tepat, menerima dengan apa
adanya secara natural tanpa mengubah apalagi menyangkal. Selain hal tersebut
membentuk kecerdasan, guru harus percaya bahwa peserta didik itu suka mengamati
tentang sesuatu hal. Selaku guru tuntun mereka membudayakan kebiasaan mengamati
dan meneliti tentang segala hal dengan memulai yang sederhana, agar nantinya
mampu menyelesaikan masalah berdasarkan fenomena yang ada. Pandanglah peserta
didik dengan Discovering Ability
fokuslah pada kelebihan anak, jangan bangun penghalang pada anak.
Menjelajah anak secara positif bahwa semua anak memiliki keunikan, kecerdasan,
memiliki kelebihan.
Guru yang hebat, ketahuilah bahwa dengan discovery
ability yang tinggi kita bisa menemukan potensi yang sekecil apapun pada
peserta didik. Pahami tentang hubungan intra personal atau konsep diri dan
sesame, terbuka dengan perubahan, dan spiritual. Percayalah, dengan terus
berupaya menemukan keunggulan peserta didik, mendukung dan memberi peluang
mengeksplorasi dirinya, maka mereka tumbuh dan berkembang untuk masa depannya.
Berdasarkan aksi yang dilakukan dalam pembelajaran bahwa saat ini kondisi membuat kita dalam sebuah dilema bahwa nyatanya peserta didik di zaman milenial problem nyata dihadapi oleh peserta didik berdasarkan survey prospek akademik sangat kurang dibanding dengan non akademik. Di era digital ini, teknologi gawai sangat berperan dalam proses pembelajaran apalagi dalam masa pandemik, namun menyita waktu dan sangat butuh kesimbangan.
Merdeka belajar merupakan seruan yang sangat dinamis
dan enerjik. Spirit untuk belajar, menyadarkan kita bahwa belajar itu adalah
hak asasi manusia yang tidak bisa dihalangi untuk mendapatkan kenyamanan,
kebahagiaan dan ketentraman di masa depan.
Walaupun kadang ada peserta didik sebagian besar memilih jurusan bukan
karena sesuai dengan keinginan minat dan bakatnya melainkan karena pemenuhan hasrat dan
obsesi orang tua semata. Lain halnya lagi peserta didik mau belajar bukan
karena ingin mendapatkan pengetahuan melainkan mereka mau belajar disebabkan
untuk memuaskan hasrat citra sekolah sehingga peserta didik dipaksa menerima
nilai. Hal tersebut kebebasan belajar dan merdeka belajar menjadi sesuatu yang
nihil.
Namun semua itu diharapkan pada sang guru jangan memandang masalah anak secara sebelah masalah. Inspiring teacher atau peran guru sangat dibutuhkan dalam menuntun peserta didik kita agar tidak terjerumus dan tidak melek dengan adiktif gadjet. Sang guru senjatanya pengetahuan dan peran cendekiawannya harus menjadi orang tua sehingga amanat dari filosofi Ki Hajar Dewantara jadilah menasehati, mensuport, menuntun, memotivasi , dan menginspirasi menjadi sahabat kita sharing atau berbagi dengan berkolaborasi dan membangun kemitraan dengan murid. Caranya
- Keteladanan. Guru keras anak menjauh, guru tegas
anak mendekat.
- Semua peserta didik itu memiliki keunikan dan
kelebihan. Peserta didik adalah
aset utama dalam Komunitas sekolah. Mari memandang anak secara positif,
memiliki kecerahan masing-masing sesuai kodrat dan keunikannya. Tak ada
manusia yang sempurna, oleh karena itu jangan menghalangi pandangan kita
ke peserta didik, pandanglah secara positif.
- Peserta didik memiliki kemampuan. Meliputi Psiko afektif yakni sikap, psiko psikomotorik yakni keterampilan, psiko kognitif yakni pengetahuan. Setiap anak, membuka paradigma kemampuan, hadirnya kondisi online lakukanlah discovery agar dapat menemukan kelebihan mereka.
- Gali, perhatikan, amati, dan kembangkan bakat, minat, dan kemampuan istimewa yang mereka miliki. Setiap anak cerdas dengan multiple intelligence, kecerdasan anak, kecerdasan tidak dibarengi atau hanya diwakili dengan angka-angka tetapi kreatif dengan problem solving. Anak yang cerdas adalah anak yang mampu dan kreatif menyelesaikan permasalahan dengan menemukan solusi secara benar dan tepat sehingga terwujud profil pelajar pancasila. Nilai tersebut meliputi berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, kreatif, berpikir kritis, dan mandiri.
Mari menelaah dan memetakan
minat, bakat, dan kemampuan istimewa peserta didik, tentukan strategi,
kembangkan sikap kritis, berpikir terbuka dan berjiwa untuk membuka peluang
bagi peserta didik. Agar peserta didik menyadari dan memotivasi diri
mengeksplorasi diri dan bertumbuhkembang untuk mencapai kebahagiaan secara
individu maupun sebagai masyarakat.
Referensi
Rafael,
Simon Petrus, 2020. Modul 1 Paradigma dan Visi Guru Penggerak: Refleksi
Filosofi Pendidikan Nasional. Jakarta:Kemdikbud.
Chatib,
Munif, 2011. Gurunya Manusia. Jakarta:Kaifa

0 Komentar