Memilih Jadi Guru

 



"Guru adalah ibu, guru adalah pelita, dan guru adalah teladan"(Herlina)

Adakah di antara kita, semua keinginan dalam kehidupan ini terwujud? Ada kalanya keinginan kita tidak terwujud sehingga rasa kecewa, rasa tidak puas menyelimuti keseharian. Pernahkah kita bersyukur karena keinginan kita tidak terwujud? Sungguh, perlu kesadaran bahwa kemungkinan keinginan kita tidak terwujud karena Allah SWT sedang menguji sejauh mana kesabaran kita. Bukankah kita telah banyak karunia Allah berikan, sehingga kita memilih menjadi guru.

Kebebasan beraktivitas harusnya menjadi keleluasaan bagi guru datang di sekolah, melaksanakan tugas sesuai etos guru dalam menghadapi keanekaraman karakteristik peserta didik. Pada setiap bulannya menerima gaji karena profesi guru. Menerima sertifikasi karena guru adalah manusia profesional dalam melaksanakan dan menggaungkan diri dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai agen transformasi dunia pendidikan.

Guru adalah sosok ibu memiliki dedikasi tanpa jasa, mengilhami ketulusan dan penuh kasih sayang. Guru sebagai pendidik, memiliki tugas dan kewajiban menuntun peserta didik sehingga dapat menjadi manusia yang memiliki kasih sayang, karakter, dan bermanfaat di masa depannya. Guru menjadi pembimbing dari kekuatan dan potensi-potensi peserta didik yang telah dimiliki. Membimbing peserta didik menggali kekuatan yang dimiliki sehingga memiliki kemampuan untuk mengeskplorasi diri dalam mengembangkan bakat minat untuk meningkatkan keterampilan demi menyongsong masa depan. Guru menuntun peserta didik dengan berbagai karakteristik berdasarkan kodrat, menyelaminya sesuai kodrat zamannya.

Berada di zaman globalisasi, arus komunikasi maya semakin merajai keberadaan peserta didik maka guru tetap harus menjadi pembelajar sehingga tak ketinggalan dengan keunikan yang menggandengi peserta didik zaman sekarang. Guru harus mengubah pola pikir, paradima perubahan mengikuti perkembangan dengan  beradapdasi zaman canggih sekarang ini. Guru harus lepas dari zona nyaman dari pola pikirnya, dan tetap selalu berbahagia dalam menjalankan amanahnya.

Guru harus memiliki kepiawaian dalam menuntun peserta didik yang memiliki keanekaragaman karakteristik, mampu mengantar peserta didik untuk merajut masa depannya.

Namun ada kecenderungan sebagian guru lupa soko pelita, tidak melaksanakan tugas dengan baik dan ikhlas, padahal guru adalah pelita. Kita semua memahami bahwa pelita merupakan media yang memiliki sinar dan cahaya penerang bagi kegelapan. Gurupun demikian, cahaya penerang bagi peserta didik. Guru jangan pernah hanya melepas tanggung jawab mengajar. Ketika menemui hambatan, keluh kesah yang menjadi tameng. Kesah dengan berbagai prilaku peserta didik. Tentu berdasarkan keanekaragaman peserta didik, ada peserta didik yang sesuai keinginan guru, dan ada pula yang tidak sesuai sehingga muncul istilah nakal, tidak sopan, malas, tidak berkarakter, dan lain-lain.

Pada kondisi tertentu, peserta didik kadang mengalami sesuatu diluar nalar, sehingga guru kadang tidak menerima bahkan mensugesti anak tanpa melihat dan menyelami sebab musabab dari tindak lakunya. Harusnya pada saat itu, guru menyadari semua peserta didik memiliki keunikan, namun juga memiliki keterbatasan. Ada peserta didik yang sangat patuh, taat bahkan pandangan guru dia peserta didik yang terbaik. Patuh dan taat atas segala aturan serta semuakeinginan diwujudkan. Namun ada juga peserta didik yang  selalu menjengkelkan sehingga guru muncul sugesti notabene anak yang nakal, malas, tukang tidur, tidak sopan. Sebaiknya guru memiliki soslusi agar peserta didik lebih baik.

Guru tetap bertoleransi menjadi penerang pada kondisi kabut yang dialami oleh peserta didik, tidak menjastis sesuai keinginan. Sesungguhnya peserta didik yang notabene nakal, tukang tidur, malas, tidak memperhatikan pelajaran, bias saja menjadi anugerah bagi guru. Mari semua guru tidak pernah lelah penuh keikhlasan dan ketulusan menuntun peserta didik menggali potensi menemukan solusi untuk menjadi harapan bangsa. Terangilah langkah peserta didik dengan penuh tanggungjawab dan kasih sayang. Segala kekerasan bila dihadirkan dalam kelembutan dan dedikasi, yakinlah membawa dampak positif.

Tantangan guru adalah berpikir positif dari kelemahan peserta didik. Sangat sepele kedengaran, namun bisa saja berdampak buruk pada perkembangan peserta didik bila terus menerus menghadapinya dengan kemarahan.

Guru adalah teladan. Guru harus berperilaku baik dan menginspirasi bagi yang lain. Guru harus memiliki perkataan yang baik dan sopan, sikap dan perilaku yang positif, mental, dan moral dapat digugu dan di tiru oleh peserta didik. Guru memiliki itikad baik, menjadi pembelajar sepanjang hayat, memiliki kemampuan dan keterampilan yang dapat ditularkan pada orang lain, punya motivasi untuk melakukan hal-hal yang menginspirasi. Guru menjadi figur

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...