JUMAT BERKAH

 Jumat merupakan hari penuh barokah


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jumat adalah salah satu hari dalam sepekan, hari istimewa bagi umat Islam. Sedangkan berkah atau dalam bahasa Arab disebut barokah adalah karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam kehidupan manusia. Jumat Berkah adalah hari yang baik bagi kita semua untuk melakukan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan ini.

Jumat Berkah merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan untuk menumbuhkan kebaikan dan kepedulian sesama. Hubungannya dengan pembentukan karakter pada sebuah sekolah. Sebagai institusi pendidikan, sekolah sebagai wadah mengembangkan segala keunikan peserta didik yang dimiliki. Peserta didik dapat mengembangkan diri baik akademik, non akademik, serta menumbuhkan karakter dari perilaku positif.

Untuk menjadikan ikon pembelajaran dan pembiasaan positif dalam aktivitas jumat berkah tentu lebih awal harus mensosialisasikan kepada seluruh warga sekolah agar dalam pelaksanaannya sesuai kesepakatan yang ada.

Jumat Berkah salah satu wujud atau bentuk pembiasaan yang dilakukan bahwa setiap hari jumat, sekolah memiliki kesepakatan untuk berkeliling kelas membawa kotak jumat berkah dan peserta didik sangat respon dengan kegiatan tersebut.

Giat jumat berkah tersebut menjadi pembiasaan budaya positif yang disepakati oleh sekolah. Melakukan budaya positif di sekolah tentu membutuhkan sebuah komitmen bersama sehingga aktivitas yang dilakukan membudaya untuk semua warga sekolah.

Mengembangkan budaya jumat berkah di sekolah, tentu peran guru sangat diperlukan untuk mendukung dalam menggali potensi yang dimiliki oleh peserta didik dan mengembangkan nilai-nilai positif dalam diri peserta didik. Mengembangkan budaya positif di sekolah dibutuhkan kesungguhan, kolaborasi antar guru, dukungan kepala sekolah dan orang tua.

Jumat Berkah merupakan implementasi dari Profil Pelajar Pancasila dari bergotong royong yakni diharapkan peserta didik memiliki kemampuan bergotong royong yaitu memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan bersama-sama dengan senang dan sukarela sehingga kegiatan yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, mudah, lancar dan ringan. Elemen kunci dari pada gotong royong terdiri atas tiga, yaitu kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. Gaung dari profil pelajar Pancasila ini menjadi dasar melakukan atau mengaktualisasikan dari ketiga elemen kunci dari bergotong royong melalui kegiatan Jumat Berkah.

Tujuan jumat berkah adalah

  1.          . mengimplementasikan nilai-nilai positif bagi peserta didik untuk senantiasa melakukan budaya positif
  2.        membentuk karakter kepedulian terhadap sesama
  3.    .       melatih peserta didik mengembangkan nilai berbagi pada sesama baik berupa materi, spiritual, finansial

Mengaplikasikan konsep dari bergotong royong dalam kehidupan sehari-hari melalui aktivitas Jumat Berkah dapat menumbuhkan sikap positif yang membudaya sehingga terbentuk karakter, seperti;

  1. .      Kolaborasi yakni senang melakukan kerja sama, saling membantu ketika terjadi musibah, tolong menolong dengan rasa penuh sukarela dan tulus.
  2.        Peduli, yakni peserta didik membudayakan rasa empati, proaktif dalam melakukan jumat berkah dengan berkeliling kelas membawa kotak amal,
  3.         Berbagi yakni dengan senang dan rela hati berbagi sekaligus menerima bila dalam kondisi terkena musibah seperti teman berduka ataupun sakit.

Kegiatan jumat berkah yang dilakukan tentu menghasilkan dampak positif terhadap tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai positif yang membentuk menjadi karakter bagi peserta didik. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari bagi peserta didik dapat saling menghargai, saling menghormati, saling memahami, saling membantu sama lain tanpa memandang perbedaan ras, suku, status sosial, dan lain-lain. Yang pada akhirnya tumbuh rasa kebersamaan, saling menguatkan sehingga tetap terjalin persatuan dan kesatuan bangsa.


0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...