Supervisi Akademik

 

 Pentingkah supervisi? Untuk apa dilakukan? Apa hubungannya dengan pembelajaran?

Sebuah sekolah akan memiliki konstribusi meningkatkan mutu pendidikan apabila menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Untuk meningkatkan kualitas dan mutu tentu eksistensi seorang guru sangat berpengaruh dan berdasar untuk menghaislkan mutu yang optimal. Peran guru salah satu factor yang sangat menentukan mutu luaran peserta didik. Interpensi yang dilakukan adalah bagaimana mutualitas dan kreativitas, serta inovasi seorang guru dalam mengelola pembelajaran. Manifestasi guru dalam pembelajaran dapat dilihat melalui supervise akedemik.

Terlebih dahulu kita mendefinisikan istilah superfisi. Supervisi adalah kegiatan yang dilakukan sebagai strategi melakukan peningkatan mutu pembelajaran. Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 19, Glickman, et al.  2007). Dengan demikian supervisi akademik merupakan kegiatan yang dilakukan secara langsung berdampak pada prosese pembelajaran dengan tujuan membantu guru melakukan perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan tindak lanjut untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.


Foto: pra supervisi
 
Foto: pasca supervisi (repleksi)

Melakukan supervisi bukan hal yang tiba masa tiba akal. Kapan dibutuhkan dalam proses pengelolaan, pada saat itu pula dilaksanakan supervise oleh kepala sekolah. Namun supervisi dilakukan sebagai sumber evaluasi bagi tercapainya proses pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, agar supervisi yang dilakukan sesuai dengan tujuan yang diinginkan maka lakukan perencanaaan yang baik.

Perencanaan yang baik akan menentukan lancarnya pelaksanaan program dengan tujuan memberi bantuan dalam wadah guru mengajar dan mengacu pada kebutuhan guru, yang penting di lakukan. Membuat perencanaan guru tentu berbeda dengan guru yang lain secara kooperatif dan sesuai dengan kebutuhan yang ada. Penekanan pada perencanaan sebagai pedoman, tentu harus memiliki persamaan persepsi, menjamin keefektifan dan keefesienan mutu sekolah. Bukan hanya kegiatan korektif bagi guru dalam melakukan proses pembelajaran.

Perencanaan yang dilkakukan harus secara konprehensif, kooperatif, dan fleksibel. Perencanaan secara konprehensif bahwa semua tahapan supervisi harus secara satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Secara kooperatif bahwa melakukan supervisi harus melibatkan orang lain, kolaborasi terbangun dalam menselaraskan tujuan yang akan dicapai. Dan perencanaan secara fleksibel artinya perencanaan yang dilakukan tidak kaku, terbuka, mengikuti konsisi sehingga terjalin komunikasi agar berdampak perubahan.

Pelaksanaan supervisi tentu harus ada :

a.       persiapan dan perencanaan yang sistematis seperti merumuskan tujuan,

b.       ada pemberitahuan atau kesepakatan dengan guru yang akan disupervisi,

c.       Ada teknik dan metode yang akan dilakukan agar hasilnya konprehensif atau menyeluruh,

d.       menyediakan instrument yang sesuai dengan kemampuan guru yang akan disupervisi

e.       melakukan refleksi

f.        dan membuat laporan hasil supervisi

Hendaknya supervisi dilakukan dengan teguh pada saling menghargai, saling menghormati, menciptakan komunikasi yang baik, refleksi yang menginspirasi sehingga sinegitas kerja lancar. Semua itu dilakukan secara objektif, bertanggungjawab, berkesinambungan agar tercapai secara optimal apa yang diharapkan.

Dari hasil pelaksanaan supervisi akademik tentu ada data yang diperoleh untuk memenuhi standar yang ada. Melalui supervisi yang dilakukan sangat efektif dijadikan sebagai acuan atau pedoman untuk melakukan tindak lanjut, baik sinergitas kinerja guru dalam mempertahankan ataupun meningkatkan pembelajaran atau sekaligus mengembangkan dan meningkatkan mutu guru yang professional.

 

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...