Eksplorasi: Pendidikan Zaman kolonial

 

13082021 Sistem pendidikan zaman colonial sangat diskriminatif, hanya sebagian kecil yang mendapatkan  pendidikan.

1. Bagian paling menarik dalam video adalah lahir perguruan Taman Siswa di Yogyakarta sebagai gerbang emas kemerdekaan dan kebebasan kebudayaan bangsa.Alasan saya memilih bagian ini adalah sosok Ki Hadjar Dewantara sebagai putera Indonesia saat itu yang sangat kokoh dan  gigih dalam memperjuangkan kebebasan belajar rakyat lainnya. Walaupun beliau diasingkan  tetapi mampu untuk menggunakan setiap peluang yang ada, mampu untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran dan pada akhirnya bisa mendirikan perguruan taman siswa yang memberikan perubahan dalam pendidikan dan pengajaran yang sama untuk semua rakyat. Pendidikan tersebut menjadi warisan bagi bangsa Indonesia hingga saat ini.

2. Tujuan pendidikan yang dapat dilihat dari video pendidikan zaman kolonial adalah pendidikan saat itu semata-mata untuk epentingan pemerintah kolonial Belanda pada saat itu, pembelajaran di utamakan bahasa Belanda, membaca, menulis, dan berhitung itupun hanya untuk mendukung kebutuhan colonial waktu itu.

3. Persamaan ingin melakukan perubahan, sama memiliki semangat belajar, karena belajar membuat seseorang dapat berubah. Perbedaan Hak kemerdekaan Pendidikan zaman colonial sangat diskriminatif. Kesempatan bersekolah hanya untuk anak bangsawan, elit, sedangkan saat ini semua anak memiliki hak yang sama dalam dunia pendidikan.

Menjadi guru berdasarkan hasratnya, sedangkan saat kini semua orang memiliki hak untuk menjadi guru.

Pelajaran zaman colonial mengutakan Bahasa Belanda baik membaca, menulis, bercakap, dan berhitung, sedangkan pelajaran zaman sekarang beragam berdasarkan muatan pembelajaran wajib, peminatan, dan kelokalan.

Pembelajaran zaman colonial terpusat pada guru sesuai keterbatasan hanya menulis, sedangkan pembelajaran saat ini bahan pembelajaran dapat diakses dengan berbagai jenis: seperti buku, internet, media pembelajaran berupa video, dll.

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...