RESTORY KAU AKU GURU

 

Aku berlari di tengah pikuk pasar dunia

Tiba-tiba aku mengingat namamu

Aku puntelah mengenalmu, bahkan kuhafal semboyangmu

Namun tak kuhiraukan keteduhan pikirmu

Lalu kau datang bercerita

Tentang anak-anak menyeberangi cita-cita
Bertanya dan menjawab dalam telungkup

Tak bersuara

Sungguh diksimu memenuhi relung hati

Menuntun menyejukkan jiwa

Bergelora memantik harapan

Tentang manusia yang merdeka dan bahagia

Sungguh menyemai butir-butir benih

Di antara lahan kering, tandus dan basah

Kau menyiramnya dihelaan napas keikhlasan

Benih-benih bertumbuh

Bertunas di antara keragamanan

 

Bulir-bulirnya pun tumbuh subur, bertumbuh serupa serumpun

Bagai beterbangan di pundak cakrawala

Memainkan lgu yang terngiang, meniti tangga  nada yang sederhana

Menghadirkan sosok lincah bebas nan bahagia

 

Lalu kau mengajakku bersenandung

Mengikuti irama, jejak sandi semboyan

Ing Ngarso Sung Tulada

Ing Madya Mangun Karsa

Tut Wuri Handayani

Cerminan diri, teladan tak bertepi

Menuntun, mencipta, menghamba pada murid

            Hatikupun terang menerima katamu

            Terucap seribu makna, penyejuk jiwa

Kalbuku terbuka menanti kasih

Bagai bulir padi menyirat isi, menuai kemuning bernas

Bagai senyummu kekal menumbuhkan rasa

Menuntun, gemulai melukiskan pelangi

Tentang kearifan dari butir-butir benih

Engkau mematahari,

Engkau menebar cahaya

Sebagai pilar kebersamaan yang tangguh

Tetaplah tegak, mengayuh jejak pendidikan


0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...