Aku berlari di tengah pikuk pasar dunia
Tiba-tiba aku mengingat namamu
Aku puntelah mengenalmu, bahkan kuhafal semboyangmu
Namun tak kuhiraukan keteduhan pikirmu
Lalu kau datang bercerita
Tentang anak-anak menyeberangi cita-cita
Bertanya dan menjawab dalam telungkup
Tak bersuara
Sungguh diksimu memenuhi relung hati
Menuntun menyejukkan jiwa
Bergelora memantik harapan
Tentang manusia yang merdeka dan bahagia
Sungguh menyemai butir-butir benih
Di antara lahan kering, tandus dan basah
Kau menyiramnya dihelaan napas keikhlasan
Benih-benih bertumbuh
Bertunas di antara keragamanan
Bulir-bulirnya pun tumbuh subur, bertumbuh serupa serumpun
Bagai beterbangan di pundak cakrawala
Memainkan lgu yang terngiang, meniti tangga nada yang sederhana
Menghadirkan sosok lincah bebas nan bahagia
Lalu kau mengajakku bersenandung
Mengikuti irama, jejak sandi semboyan
Ing Ngarso Sung Tulada
Ing Madya Mangun Karsa
Tut Wuri Handayani
Cerminan diri, teladan tak bertepi
Menuntun, mencipta, menghamba pada murid
Hatikupun terang menerima katamu
Terucap seribu makna, penyejuk jiwa
Kalbuku terbuka menanti kasih
Bagai bulir padi menyirat isi, menuai kemuning bernas
Bagai senyummu kekal menumbuhkan rasa
Menuntun, gemulai melukiskan pelangi
Tentang kearifan dari butir-butir benih
Engkau mematahari,
Engkau menebar cahaya
Sebagai pilar kebersamaan yang tangguh
Tetaplah tegak, mengayuh jejak pendidikan
0 Komentar