Ruang Kolaborasi: Perilaku Positif Ki Hajar Dewantara

 

Kerangka pembelajaran sesuai filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) dengan budaya daerah adalah Siwaliparri. Kearifan local siwaliparri adalah salah satu tradisi yang bermakna tolong menolong dalam menghadapi permasalahan dan kesulitan secara bersama-sama. Sama rasa sama dapat. Baik dalam rumpun keluarga maupun masyarakat.

Kerangka Pemikiran siwaliparri dapat di jadikan sebagai pembelajaran mengenai nilai-nilai positif dalam tradisi tersebut:

1.      Kerja sama (saling membantu)

2.      Gotong royong (bahu membahu mencapai dalam tujuan yang diharapkan.

3.      Kebersamaan (rasa kekeluargaan atau persaudaraan)

4.      Persatuan (keberagaman corak atau ras/suku satu dalam kebulatan yang utuh dan serasi.

5.      Saling menghargai

 

Lima nilai positif tersebut dapat diimplementasikan dalam pembelajaran. Nilai yang disepakati adalah gotong royong.

1.      Karena sesuai dengan penerapan pembelajaran pembelajaran abad 21 4C (Critical tingking, communication, collaboration, creaticity). Dalam pembelajaran tersebut mengaktifkan murid.

2.      Karena sesuai dengan profil pelajar Pancasila.

Identifikasi dan kekuatan dan potensi yang dimiliki sekolah

1.      Potensi peserta didik

2.      Sarana prasarana

3.      Dukungan Kepala Sekolah,  teman sejawat

 

Tujuannya pendidikan nasional sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu mewujudkan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi yang berprilaku yang sesuai nilai-nilai Pancasila. Pendidikan utama merupakan suatu usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan manusia baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun berbudaya.

 

Indikator:

1.       

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...