Refleksi Kritis Pemikiran Ki Hajar Dewantara

 

16082021


Assalamualaikum wr wb

Saya Herlina, dari SMA negeri 1 Majene, Sulawesi Barat

Tanggapan atau refleksi kritis Pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Intisari pemikiran Ki Hajar Dewantara  yaitu:

1.    Makna pendidikan iitu sendiri. Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan. Atau pendidikan adalah sebuah usaha membangun peradaban.

2.    Semboyan Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarsa Sung Tulada di depan menjadi contoh atau panutan"., Ing Madya Mangun Karsa di tengah memberi atau membangun semangat , dan Tut Wuri Handayani di belakang memberikan semangat atau dorongan

3.    Prinsip perubahan, dalam hal ini proses pembelajaran yang terpusat pada murid.

Sangat perlu dipahami dalam intisari tersebut, tentang:

1.    Kemerdekaan dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini semua anak memiliki hak sama dalam dunia pendidikan

2.    Kebebasan, dalam hal ini semua anak lahir dari berbagai keunikan, memiliki bakat dan minat yang berbeda, tuntunlah untuk menggali potensi diri, berikanlah ruang pada anak untuk mengeksplorasi diri agar anak menyadari kemampuan dan kompetensinya baik di bidang akademik maupun non akademik dengan tetap mencerminkan budi pekerti.

Pembelajaran yang mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah penerapan pembelajaran saintifik, seperti penggunaan model discoveri learning, problem based learning, projek based learning.

Foto herlina 2017

Saat menggunakan model tersebut, pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru melainkan mengaktifkan anak dalam pembelajaran. Guru bukan sumber belajar satu-satunya melainkan guru hanya sebagai fasilitator. Guru hanya mengarahkan anak agar anak dapat mengeksplarasi diri meningkatkan kemampuan dan kecakapan hidup, agar nantinya tanggap dengan fenomena ketika berada di masyarakat.

Upaya yang dilakukan agar proses pembelajaran mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara terwujud

1.    Mengajar anak sesuai zamannya. Saat ini era digital, teknologi semakin canggih. Guru harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan anak milenial, Harus menyesuaikan pembelajarannya dengan zaman anak. Teknologi sudah menjadi sebuah kebutuhan, karena itu guru harus menuntun anak bagaiman kreatif menyikapi perkembangan teknologi sesuai karakternya

2.    Sebaiknya guru memilih model pembelajaran yang terpusat pada murid.

Konsep Ki Hajar Dewantara yang sudah di terapkan. Penerapan konsep Ki Hajar Dweantara yang sudah saya terapkan adalah

1.    pada saat menggunakan model pembelajaran seperti model discovery learning, projek based learning. Pelaksanaannya semua berpusat pada anak.

2.    Pembelajaran sesuai zaman. Dalam hal ini pembelajaran secara kontekstual, memanfaatkan teknologi melalui Handphone, laptop, media social, fitur androig yang sudah akrab dengan dunia anak.

3.    Proses penilaian

Penilaian merupakan upaya atau tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Penilaian mencakup 3 ranah yaitu afektif, kognitif, dan psikomotor. Penilaian utama adalah penilaian sikap. Dalam pembelajaran tetap mengimplementasikan nila-nilai religious, nilai budaya sebagai upaya penumbuhan dan penguatan karakter anak.

4.    Memberikan ruang kepada anak yang sama untuk mengeskplorasi diri.

Demikian refleksi kritis tentang intisari pemikiran Ki Hajar Dewantara

Wassalamualaikum wr wb.

 

 Bersyukur Selalu
Salam Bahagia


0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...