Refleksi Jurnal Minggu Kedua

 




Refleksi Jurnal Minggu Kedua

Menuliskan refleksi jurnal ini sebagai media rekam jejak untuk menyadarkan saya refleksi pembelajaran untuk lebih mengenali diri saya sehingga nantinya mendorong saya untuk meningkatkan kualitas untuk terus belajar, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran dengan praktik yang baik. Model refleksi yang saya gunakan adalah Model 4F (Facts, Feeling, Findings, Future).

Menjadi guru menginspirasi merupakan cita-cita yang memotivasi saya semoga dapat menjadi guru yang mengaplikasikan amanah pemikiran Ki Hadjar Dewantara. 

Kegiatan minggu kedua ini yakni Refleksi Terbimbing pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan adalah persemaian nilai kebudayaan. Pendidikan dan pembelajaran merupakan satu kesatuan yang membentuk peradaban. Menuntun anak berdasarkan kodrat alam dan kodrad zaman agar tumbuh menjadi manusia yang lebih baik dan merdeka. Budi pekerti merupakan perpaduan cipta, karsa dan karya Merdeka belajar yakni pembelajaran menghargai keberagaman dan keunikan anak. Kegiatan selanjutnya yakni Demonstrasi Kontekstual Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam Karya, dalam hal ini saya pemahaman saya tuangkan dalam sebuah puisi  story Guru. Kegiatan berikutnya secara virtual yaitu Elaborasi Pemahaman dalam konferensi dari Perguruan Taman Siswa, dan Koneksi Antar Materi Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Saya memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru sebagai pendidik dan pembelajar.

Saya merajut semua materi dan perlahan-lahan menerapkan dalam pembelajaran. Refleksinya, sebelum mempelajari pemikiran Ki Hadjar Dewantara saya menganggap bahwa murid itu sebagai objek, murid hanyalah organisme yang pasif, hanya penerima informasi dari guru, dan belum bisa memahami sesuatu tanpa penjelasan guru, dan saya tidak mempertimbangkan kebutuhan murid. Bagi saya dalam pembelajaran, murid harus mampu menguasai dan menuntaskan semua materi yang diajarkan. Saya menganggap bahwa sumber utama dan seluruh terpusat pada guru, dan saya menggunakan metode, strategi atau model pembelajaran tetapi tidak  bervariasi. Bahkan saya lebih dominan memikirkan selesainya target.

Awalnya proses pembelajaran yang saya lakukan hanya memberi instruksi pada murid untuk mengembangkan literasinya dengan membaca buku paket dan mencari materi pelengkap diinternet lalu saya berikan tugas dengan objek yang saya tentukan. Lalu murid banyak tidak menyelesaikan tugasnya. Setelah saya menelusuri mengapa tidak menyelesaikan ternyata ada yang tidak memahami prosedur mengerjakannya. Kadang membiarkan sampai murid berusaha menyelesaikan.

Namun setelah mempelajari dan memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara inilah memberikan warna mengajar saya.  Bahkan membuka wawasan saya agar dapat berinovasi untuk menciptakan pembelajaran yang memerdekakan dan menyenangkan bagi murid. Seperti pada pembelajaran menyusun teks laporan hasil observasi, saya mengirimkan materi dan petunjuk mempelajaridan mengerjakannya. Saya berusaha menuntun melalui unjuk kerja sebagai pemantik dalam menyelesaikan tugasnya. Dan juga saya selalu membuka room google meet sebagai media tatap muka maya untuk melakukan penguatan materi pada murid, lalu menyepakati model tugas. Ada yang ingin mengerjakan dengan menghasilkan video dan ada juga berupa teks tulisan.

Rasanya menerapkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini dengan menuntun dan melaksanakan merdeka belajar, tidak memaksa kehendak pada anak, mendesain pembelajaran yang berpihak kepada anak, menerapkan pembelajaran dengan memperhatikan keunikan anak.  Melatih kecerdasan budi pekerti, membudayakan kearifan lokal dalam pembelajaran. Perubahan konkret yang saya lakukan menambah hasanah menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, aman dan nyaman, menerapkan merdeka belajar dengan memberi kesempatan kepada anak untuk berinovasi, kreatif dan mandiri, menggunakan teknologi dalam pembelajaran dan tetap menumbuhkan rasa cinta dan melestarikan budaya lokal, dan menumbuhkan karakter pada murid.

Hal yang paling menantang dalam kegiatan calon guru penggerak ini adalah saya benar-benar harus mengatur waktu semaksimal akan dapat menjalankan dan melakasanakan semua rill kegiatan sebagai individu, kelompok, maupun menyeluruh dengan penuh tanggung jawab dan selaras.

Keikutsertaan dalam PGP ini membuat saya menjadi lebih baik, mandiri, kreatif, dan tumbuh minat meningkatkan literasi, terbiasa mengerjakan tugas modul dengan waktu yang telah ditetapkan, kendala jaringan ketika akan mengupload tugas di LMS sehingga walaupun masih kadang ada yang keburu deadline yang disediakan. Namun dengan ketulusan dan kecerdasan fasilitator mensupport dan menuntun sehingga saya selalu termotivasi dan bersemangat. Meningkat dalam mempersiapkan diri membaca modul, menyiapkan materi mengajar, menyiapkan strategi belajar yang inovatif, menyenangkan, dan lebih demokrastis dalam merancang dan menstimulus murid untuk berpacu percaya diri, berani berpenpendapat dan saling menghormati, serta menghargai sesama teman. Berusaha memantik berkolaborasi dan berbagi pada teman sejawat di sekolah.

Materi dan isi tugas pada LMS tentang kebijakan dan keputusan dari pemikiran KHD dan filsosofis yang sangat luar biasa yang menyadarkan kita untuk bisa mendidik dan mengajarkan dengan benar kepada anak. yang berpedoman pada Ing ngarsa sung tulada (didepan menjadi teladan), ing madya mangun karsa (ditengah menjadi penyemangat) dan Tut wuri handayani (dibelakang mendorong) bagi anak didik.

Semoga saya dapat menjadi penuntun bagi anak didik, berikan kepada mereka kebebasan dalam berkarya berfikir hinga terwujud ciptra karsa dan rasa. Murid harus dilibatkan bersama dalam pembelajran, kita dituntu untuk bisa mendampingi dan menggali potensi yang dimiliki serta bisa megembangkan bakat  murid  berdasarkan kodratnya. Menserasi dan selaraskan kodrat alam dan kodrat zamanya sehingga di masa depannya menjadi manusia yang lebih, mendapatkan kemerdekaannya yang seluas-luasnya sehingga memperoleh kebahagiaan baik secara pribadi maupun dalam masyarakat.

Secara sadar bahwa agar penerapan pengetahuan dan pengalaman baru ini bisa terwujud, menyesuaikan idealisme yang saya miliki dengan keadaan real yang saya hadapi, tidak perlu tergesa-gesa dan sebaiknya saya memulai dari hal yang kecil/sederhana. Saya juga perlu melakukan pembaharuan metode/strategi dalam pembelajaran agar bisa melibatkan seluruh potensi yang dimiliki murid. Menumbuhkan disiplin positif pada murid, membuatnya menyadari didi, mengoreksi diri, memberi perlakuan adil dan seimbang. Membimbing murid dengan kekeluargaan menerapkan asah, asih, asuh, memandang egaliter, memerdekakan seluas-luasnya dalam berpikir cerdas, berinovasi, kreatif, dan kritis.  Memberi ruang pada anak berdasrkan Ing ngarsa sung tulada (didepan menjadi teladan), ing madya mangun karsa (ditengah menjadi penyemangat) dan Tut wuri handayani (dibelakang mendorong) sehingga murid aktif mencari tahu tentang sesuatu bukan aktif diberitahu. Melalui proses kebermanfaat dalam memberikan tuntunan pembelajaran yang baik. Agar mencapai tujuan pelajar Indonesia adalah pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan prilaku sesuai dengan nilai-nilai pancasila sesuai profil pelajar pancasila: beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, kreatif, berpikir kritis, dan mandiri.

Mendesain rencana pembelajaran dengan aktivitas-aktivitas yang melibatkan peserta didik secara aktif, inovatif, sederhana, dan menyenangkan. Akan hadir bersama dengan murid, menjadi teman belajar, menuntun, membangun semangat, dan mengarahkan dan menciptakan kolaborasi, serta memperhatikan dan menyesuaikan kebutuhan belajar murid. Mengintegrasikan permainan edukatif dari hal-hal sederhana yang dapat menggugah keberanian peserta didik untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. 

Demikian refleksi dari saya, semoga kita bisa saling belajar dan memperkaya pengetahuan sebagai Pendidik demi mendukung  pembelajaran yang merdeka menurut pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

Salam sehat dan bahagia selalu!

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...