Sebuah keberuntungan
mendapat kesempatan menjadi calon guru penggerak. Pada lembar ini saya
merefleksi semua kegitan yang telah dilakukan, baik yang dilaksanan melalui
zoom meething, WA Group, dan pembelajaran melalui LMS guru penggerak, Pembelajaran yang telah saya lalui dalam rangkaian LMS
pada pendidikan guru penggerak ini cukup padat. Pembelajaran yang diterapkan
sangat beragam. Penerapan pembelajaran pada LMS menurut saya sebagai gambaran
pembelajaran merdeka belajar sebagaimana yang digagas Ki Hajar Dewantara.
Pembelajaran dilaksanakan secara mandiri sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan.
Pada refleksi jurnal pertama ini saya memilih model Six Thinking Hats. Dengan memilih model
refleksi Six Thinking Hats (6 model topi) . Model tersebut menarik ragam
warna gambaran ragam karakteristik dari model tersebut, saya mengurai proses
dan manfaat selama seminggu mengikuti pendidikan guru penggerak.
Gambar: Six tinking hats
Enam warna dari model six thinking hats ini menggambarkanberagam karakteristik sebagai alur berpikir dalam mengembangkan refleksi kegiatan yang telah dilaksanakan. Setiap warna dari topi yang ada menggambar atau mewakili alur berpikir mengurai proses dan maanfaat. Warna topi tersebut antara lain berwarna biru, putih, merah, hijau, kuning, dan hitam. Enam jenis topi berpikir tersebut adalah topi putih tentang Fakta, topi merah tentang perasaan, hitam perhatian, kuning tentang manfaat, biru tentang proses, dan hijau tentang kreativitas.
Lebih awal memaparkan alur berpikir topi berwarna putih tentang fakta dari kegiatan yang saya ikuti pendidikan guru penggerak meliputi lokakarya perdana, pembukaan, mempelajari modul 1 tentang memulai dari diri, eksplorasi konsep, ruang kolaborasi dan refleksi.
Topi merah tentang fieeling atau perasaan meliputi rasa ragu, semangat dan senang. Selama mengikuti pembelajaran ini awalnya saya merasa ragu apakah saya mampu mengikuti dengan rentang waktu yang cukup lama. Namun setelah bersua walau daring dengan teman-teman peserta dari berbagai daerah, saya menjadi antusias dan bersemangat apalagi ketika dipandu fasilitator yang ramah dan luar biasa, instruktur yang ramah saya merasa sangat bersemangat dan bangga menjadi bagian dari program guru penggerak. Tidak semua orang memililki kesempatan menjadi guru penggerak.
Dengan demikian saya mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran ini dengan semangat dan penuh perhatian. Terlambat satu rangkaian saja, seakan-akan terasa kita sudah tertinggal jauh. Walaupun pembelajarannya sangat padat, namun saya terus berusaha mengerjakan seluruh tagihan-tagihan yang diberikan. Pembelajaran melalui LMS berbasis Moodle ini memang buka sesuatu yang baru, namun tidak semua orang dapat menjadi bagian dalam desain pembelajaran ini. Semoga semangat ini akan tetap terjaga hingga ujung kegiatan.
Banyak hal-hal positif yang saya dapatkan melalui program pendidikan guru penggerak ini. Salah satunya mengubah mindset saya dalam pembelajaran. Apa yang saya lakukan selama ini salah. Saya belum sepenuhnya menerapkan merdeka belajar. Saya hanya berorientasi pada target-target kurikulum tanpa mau tahu apa yang diinginkan siswa. Saya hanya menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran bukan objek pembelajaran. Hal positif lainnya adalah saya dapat berkolaborasi dengan pemikiran dan karakter yang beragam.
Selain itu, dalam pembelajaran secara mandiri, mendorong inisiasi saya untuk memperluas jangkauan literasi yang mendukung setiap langkah dalam pembelajaran. Juga, tugas-tugas yang diberikan sedikit tidak memantik semangat saya untuk mengembangkan keterampilan menulis yang selama ini kurang saya berdayakan. Berbagai tugas yang mengharuskan kita menulis ini dapat menjadi wadah ide dan kreasi dalam menuangkan ide dan pengalaman dalam bentuk tulisan-tulisan sederhana.
Topi kuning tentang benefits atau manfaat dari kegiatan dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan dan pengajaran Makna pendidikan itu sendiri merupakan tempat persemaian benih-benih kebudayaan. Atau sebuah usaha membangun peradaban. Semboyan Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarsa Sung Tulada di depan menjadi contoh atau panutan, Ing Madya Mangun Karsa di tengah memberi atau membangun semangat, dan Tut Wuri Handayani di belakang memberikan semangat atau dorongan. Prinsip perubahan, dalam proses pembelajaran yang terpusat pada murid. Dengan mempelajari modul saya dapat memahami kemerdekaan dan kebebasan dalam pendidikan dan pengajaran, semua anak memiliki hak sama dan semua anak lahir dari berbagai keunikan, memiliki bakat dan minat yang berbeda, tuntunlah untuk menggali potensi diri, berikanlah ruang pada anak untuk mengeksplorasi diri agar anak menyadari kemampuan dan kompetensi anak.
Setelah mempelajarinya ternyata pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru melainkan mengaktifkan anak dalam pembelajaran. Guru bukan sumber belajar satu-satunya melainkan guru hanya sebagai fasilitator. Guru hanya mengarahkan anak agar anak dapat mengeksplarasi diri meningkatkan kemampuan dan kecakapan hidup, agar nantinya tanggap dengan fenomena ketika berada di masyarakat. Mengajar anak sesuai zamannya. Saat ini era digital, teknologi semakin canggih.
Sebagai guru saya harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan anak zaman milenial saat ini. Teknologi sudah menjadi sebuah kebutuhan, karena itu guru harus menuntun anak bagaiman kreatif menyikapi perkembangan teknologi sesuai karakternya. Saya berusaha memilih model pembelajaran yang terpusat pada murid. Dalam pembelajaran tetap mengimplementasikan nila-nilai religious, nilai budaya sebagai upaya penumbuhan dan penguatan karakter anak. (4) Memberikan ruang kepada anak yang sama untuk mengeskplorasi diri.
Kegiatan guru penggerak ini menambah dan meningkat skill saya dalam hal keterampilan menggunakan aplikasi seperti Google Drive dan Google Meet, jambourd, dan editing video, walau selama ini menggunakan tetapi tidak maksimal. Manfaat yang lain adalah berkolaborasi. Dalam hal ini saya dapat bekerja sama atau berkolaborasi dengan teman sejawat untuk menyelesaikan permasalahan dengan tingkat pola pemikiran dan kemampuan serta jenjang pendidikan yang berbeda. Fasilitator dan pengajar praktik yang luar biasa mendampingi peserta untuk menghasilkan perubahan dan karya yang baik.
Dalam kegiatan ini ternyata untuk memperoleh sesuatu yang baik, mengalami sebuah kendala.Kendala saya gambar dengan pecahan berpikir dari topi hitam. Topi hitam atau coution menggambarkan kendala yang saya hadapi selama mengikuti kegiatan pada minggu pertama ini, antara lain manajemen waktu, jaringan, upload data hasil karya, penguasaan menggunakan aplikasi. Sepertinya dalam kegiatan minggu awal ini agak kerepotan membagi waktu. Namun karena saya telah berkomitmen untuk mengikuti arah perubahana, dengan semangat saya berusaha mengatur dengan baik.
Kemudian kendala jaringan, juga salah satu kendala yang menegangkan. Ketika proses berlangsung lalu jaringan internet tidak bersahabat sehingga mengikuti kurang maksimal. Apalagi pada saat vikon sering terlempar keluar masuk room. Solusinya menyediakan jaringan tambahan pada seluler berbeda. Kendala berikutnya ketika mengupload tugas di LMS, lama proses upload dan menghilang sehingga harus berulang mengisi.
Kendala dalam penguasaan aplikasi masih rendah sehingga harus banyak mempelajari tutorialnya dan belajar pada orang yang telah menguasainya, terutama dalam hal editing video. Selain itu benturan jadwal kegiatan ini dengan tugas pokok di sekolah. Hal ini terkait deadline pengumpulan tugas berbenturan dengan kesibukan di sekolah. Di tengah kesibukan sebagai guru dengan tugas tambahan urusan kesiswaan di sekolah, membimbing anak yang akan mengikuti event, saya harus pandai membagi waktu. Saya harus bisa membuat skala prioritas dalam hal ini. Artinya menyelesaikan tugas tersebut sesuai dengan tingkat urgensinya.
Selanjutnya pemecahan alur berpikir topi berwarna hijau yang saya gunakan untuk menggambarkan kreativitas menemukan ide/gagasan dalam mempelajari modul 1 tentang paradikma dan Visi guru penggerak. Gagasan utama adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, budi pekerti untuk memerdekakan manusia secara utuh dan penuh. Hal ini mengindikasikan cara menuju kemerdekaan secara lahir dan batin manusia. Baik secara personal maupun secara kelompok atau masyarakat.
Pendidikan menjadi kunci utama dalam menciptakan manusia Indonesia yang beradab.Tujuan pendidikan adalah menuntun dengan memerdekakan dan berpusat pada anak, bebas dari segala ikatan, pembelajaran yang fokus pada proses bukan pada hasil, mengajar dengan mengikuti perkembangan zaman dan tetap memperhatikan hal yang tidak bertentangan nilai kemanusiaan. Penumbuhan dan penguatan budi pekerti menjadi lebih baik, sehingga tertanam dan tumbuh benih-benih yang mencerminkan nilai kebenaran, kemanusiaan, percaya diri, sehingga menjadi pribadi yang bijaksana.
Sebagaimana semboyan KI hajar dewantara adalah Ing ngrasa sung tulada di depan menjadi teladan, bahwa seorang guru adalah pendidik yang harus memberi contoh atau menjadi panutan. Ing madya mangun karsa, di tengah membangun sebangat, artinya seorang guru adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus-menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya.
Dan Tut wuri handayani dibelakang memberi dorongan yang bermakna seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus menuntun, menopang, dan menunjuk arah yang benar bagi hidup dan anak-anak didiknya. Guru diibaratkan seorang pengasuh (fasilitator) yang mempunyai peran mengasuh, membimbing sang anak dengan ikhlas sesuai bakat dan minat yang diasuh. Maka guru hendaknya mencermati garis kodrat kemampuan siswa agar jiwanya merdeka lahir dan batin. Anak-anak mempuyai kodratnya masing-masing.
Guru mempunyai tugas mulia menuntun kodrat anak tersebut. Melalui pendidikan, guru akan menuntun anak yang sudah mempunyai kodrat baik akan menjadi lebih baik lagi. Kemudian bertumpuh pada tujuan utama pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif, dan merdeka belajar adalah filosofi belajar yang mengembangkan kemandirian dan kemerdekaan dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan alur berpikir topi biru menggambarkan hasil proses dan penarikan kesimpulan saya setelah mengikuti kegiatan Pendidikan Guru Penggerak pada minggu pertamaa ini, tentang Evaluasi diri, dalam hal ini saya melakukan instrospeksi diri atas kelebihan dan kekurangan dengan cara mintalah masukan dari teman sejawat, kepala sekolah atau pengawas sekolah terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan dan tindaklanjuti dengan terus belajar dan jangan malu untuk bertanya. Mengupgrade kebiasaan, maksudnya mengubah kebiasaan mengajar yang selama ini saya lakukan dengan cara mengajar tidak memberi keluasan pada siswa yang kadang memaksa siswa untuk melakukan tugasnya, saya kurang memperhatikan karakteristik kemampuan mereka. Sehingga kesannya mereka takut. Setelah membaca pemikiran Ki Hajar saya berusaha menciptakan kegiatan mengajar yang dapat menyentuh hati sanubari anak dan selalu dikenang.
Evolusi pembelajaran, maksudnya saya mengubah minsed dalam hal melakukan perubahan secara bertahap pelaksanaan pembelajaran yang selama ini dilakukan dengan cara belajar memberikan peluang bagi siswa untuk mengekplorasi diri sesuai bakat, kemampuan, dan karakteristik anak.,Berusaha menumbuhkan nilai-nilai kearifan local di daerah saya menumbuhkan dan menciptakan profil pelajar pancasila. Dalam hal menggunakan aplikasi yang sudah dikuasai dalam kegiatan pembelajaran.

0 Komentar