REFLEKSI TERBIMBING

 

1.                     

1.              Pengetahuan dan pengalaman baru setelah mempelajari pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai berikut:

    Pengetahuan:

a.       Pendidikan adalah persemaian nilai kebudayaan. Pendidikan dan pembelajaran merupakan satu kesatuan yang membentuk peradaban.

b.      Menuntun anak berdasarkan kodrat alam dan kodrad zaman agar tumbuh menjadi manusia yang baik dan merdeka.

c.       Budi pekerti merupakan perpaduan cipta, karsa dan karya

d.      Merdeka belajar yakni pembelajaran menghargai keberagaman dan keunikan anak

Pengalaman:

Mendesain pembelajaran yang mengacu pada semboyan Ki Hajar Dewantara Ing Ngarso Sung Tulada(di depan menjadi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun semangat anak), Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan).

2.              Kekuatan saya dalam menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara

    Saya siap menghadapi dan melakukan perubahan karena memiliki rasa percaya diri, keyakinan,             kemauan, ketekunan, dan komitmen untuk meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan.

 

3.           Hal yang perlu diubah dari diri saya agar dapat menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara

a.       Menuntun dan melaksanakan merdeka belajar, tidak memaksa kehendak pada anak.

b.      Mendesain pembelajaran yang berpihak kepada anak

c.       Menerapkan pembelajaran dengan memperhatikan keunikan anak.

d.      Melatih kecerdasan budi pekerti, membudayakan kearifan lokal dalam pembelajaran

Perubahan konkret yang akan saya lakukan setelah memahami pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah:

a.       Menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, aman dan nyaman.

b.      Menerapkan merdeka belajar yakni memberi kesempatan kepada anak untuk berinovasi, kreatif dan mandiri

c.       Menggunakan teknologi dalam pembelajaran

d.      Menumbuhkan rasa cinta dan melestarikan budaya lokal

e.       Menumbuhkan pendidikan karakter




Bersyukur Selalu

Salam sehat dan bahagia

0 Komentar

Menulis Cerita

 Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menunggu satu jam sebelum lomba menulis cerita dimulai terasa seperti duduk di antara rasa gugup dan harapan. Aula masih setengah ramai, suara kursi yang digeser bercampur dengan obrolan pelan para peserta lain. Aku memandangi layar laptop yang masih kosong, sementara jemariku sesekali mengetuk meja tanpa irama. Di sudut ruangan, aroma kopi dan kertas baru membuat suasana terasa lebih hidup, tetapi waktu berjalan lambat seperti sengaja menguji kesabaran. Sesekali aku membuka kembali catatan ide cerita yang sudah disiapkan, lalu menutupnya lagi karena takut justru kehilangan inspirasi saat lomba benar-benar dimulai. Panitia sibuk mondar-mandir memeriksa perlengkapan, sementara suara mikrofon yang sesekali berdengung membuat semua orang spontan menoleh ke depan. Di tengah penantian itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—campuran antara cemas, penasaran, dan semangat untuk segera membuktikan kemampuan lewat tulisan. Jam d...